Ketika saat kejatuhan umat itu tiba

Pendidikan 26 Nov 2020 Tholhah Nuhin
Ketika saat kejatuhan umat itu tiba
Ketika saat kejatuhan umat itu tiba © Rasoul Ali | Dreamstime.com

Virus kejatuhan sejarah Islam sesungguhnya mulai bercokol pada tubuh umat ini pada akhir masa Khulafaur Rasyidin. Tapi kesaksian sejarahnya baru terlihat beberapa abad kemudian.

Dan ini minimal ditandai dengan dua serangan besar kepada dunia Islam, invasi Tartar dan Perang Salib.

Ketika saat kejatuhan umat itu tiba

Pasukan Tartarlah yang berhasil menjatuhkan Bagdad. Mereka menyembelih lebih dari 80.000 orang Muslim dan membakar semua buku yang ada di perpustakaan. Sejarawan lain menukil kisah ini; seorang prajurit Tartar berdiri di jalan-jalan kota Bagdad. Ketika ia melihat ada orang muslim yang lewat, ia mengatakan kepadanya; “Stop!

Berdiri dan tunggu aku di sini. Aku akan kembali ke rumah mengambil pedang dan menyembelih lehermu!” Orang Tartar itu kemudian kembali kerumahnya dan mengambil pedang. Lalu kembali dan menemukan orang Muslim tadi masih berdiri di situ. Ia pun menyembelihnya.

Dan inilah fenomena lama yang terus berulang dan berlangsung sampai hari ini. Di saat jutaan mata Muslim menyaksikan fakta kehidupan barbarisme berlangsung di negeri-negeri Islam. Lihatlah kondisi Suriah, Palestina, Irak, dan negeri-negeri yang lainnya.

Demikian pula dengan Perang salib yang berlangsung dari abad kelima sampai abad ke tujuh Hijriah yang terjadi dalam 8 gelombang perang akbar. Mereka berhasil menguasai Palestina dan Al-Quds selama 90 tahun. Dan dikisahkan bahwa kuda-kuda mereka berenang di atas darah kaum muslimin.

Kita memang menang pada babak akhir kedua perang di bawah pimpinan Muzaffar Qutuz Baibarz dan Salahudin Al-Ayyubi. Tapi yang perlu kita catat adalah fakta ini; sejarah kita setelah abad ketujuh Hijriah justru menggelinding dari ketinggian menuju rawa keruntuhan.

Iman + amal saleh = hidup berkualitas  

Sementara itu, sejarah Eropa setelah abad itu justru mengalami grafik naik, sesuatu yang kemudian mengantar mereka mengalami masa Renaissan. Saat kejatuhan dan kelemahan umat Islam, maka terjadi adalah lebahnya keimanan, kesatauan, amal kebaikan dan peran para Pemimpin umat.

Cobalah mengamati proses jatuh bangun itu, Anda akan melihat kenyataan ini; ketika sejarah kita pasang ternyata kita sedang di atas puncak keimanan kita dan ketika sejarah kita surut ternyata kita berada di titik terendah dari keimanan kita.

Sebab kaidah kehidupan yang dijelaskan dalam al-Quran mengatakan:

“Barang siapa yang melakukan amal saleh dari laki-laki atau wanita sedangkan ia beriman, niscaya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”

(Surah an-Nahl, 16:97)

Jadi, di balik pasang sejarah kita ada iman dan amal saleh. Di balik surut sejarah kita ada iman yang dingin yang tidak memberikan vitalitas kehidupan. Dan ada tangan-tangan kotor yang tidak berdaya dan tidak mampu melakukan kebaikan.

Setiap kali kita berbicara tentang keimanan sealalu ada dua dimensi yang harus kita sentuh; Pertama, nilai-nilai yang diimani. Kedua, kualitas manusia yang mengimani.