Buletin SalamWebToday
Daftar untuk mendapatkan artikel SalamWeb Today mingguan!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Keunikan Masjid Seribu Tiang di Jambi 

Masyarakat 05 Des 2020
Sanak
Keunikan Masjid Seribu Tiang di Jambi atau Masjid al-Falah (bagian dalam)
Keunikan Masjid Seribu Tiang atau Masjid al-Falah (bagian dalam) di Jambi © gomuslim.co.id

Masjid Agung al-Falah atau Masjid Seribu Tiang adalah rumah ibadah umat islam yang terbesar di Kota Jambi. Masjid yang tidak terlalu jauh dari pasar Angso Duo ini menjadi ikon provinsi untuk berwisata religi.

Pasalnya bangunan masjid ini seperti sebuah pendopo terbuka dengan banyak tiang penyangga. Sehingga masyarakat mengenalnya dengan Masjid Seribu Tiang meskipun hanya berjumlah 256 buah.

Keunikan Masjid Seribu Tiang di Jambi 

Masjid agung ini dahulunya merupakan pusat kerajaan Melayu Jambi. Raja terakhirnya, Sultan Thaha Syaifudin naik tahta tahun 1858. Setelah berkuasa, baginda membatalkan semua perjanjian yang dibuat mendiang ayahandanya dengan Belanda karena sangat merugikan rakyat.

Imbasnya hal ini memicu konflik yang berlanjut dengan kontak fisik. Pertempuran yang tidak seimbang ini berakhir dengan dibumi-hanguskannya komplek Istana.

Bekas istana sultan tersebut dijadikan asrama tentara Belanda sekaligus basis pertahanan dan pusat pemerintahan Keresidenan. Ketika Indonesia merdeka, kompleks ini difungsikan sebagai asrama Tentera Nasional Indonesia (TNI) di Jambi.

Awal mula gagasan pembangunan masjid agung sudah mengemuka semenjak tahun 1960 oleh  pemerintah daerah beserta tokoh-tokoh agama. Perjuangan panjang ini membuahkan hasil, asrama TNI direlokasi dan proses pembangunan masjid dimulai pada tahun 1971.

Masjid Agung al-Falah kota Jambi selesai pengerjaan dan diresmikan penggunaannya oleh presiden Soeharto pada tanggal 29 September 1980.

Masjid kebanggaan masyarakat Jambi

Berdiri di atas lahan seluas 26.890 meter persegi dan luas bangunan berukuran 80 x 80 meter, masjid kebanggaan masyarakat Jambi ini mampu menampung 10 ribu jamaah. Beberapa kali pengurus melakukan renovasi tetapi tetap mempertahankan bentuk asli.

Arsitek Masjid Agung al-Falah adalah penemu fondasi cakar ayam, yaitu Prof Dr. Ir. Sedijatmo. Tiangnya yang kokoh diklaim bisa menahan gempa. Dari segi artistik, jejeran tiang-tiang masjid memiliki kemiripan dengan tiang-tiang bangunan agama agung kota Roma, Italia.

Bagian dalam masjid, akan terlihat berbagai benda antik seperti lampu hias berukuran besar di tengah kubah, mimbar antik, jam kayu, serta bedug. Aksen warna-warni yang menjadi ornamen kubah juga sangat indah untuk dipandang.

Sedangkan di bagian luar satu  kubah besar yang serasi dengan menara yang menjulang tinggi mengesankan kemegahan. Pembaca budiman yang berkunjung ke kota Jambi, wajib mampir ke sini.