Keutamaan rasa malu

Islam 28 Feb 2021 Tholhah Nuhin
Tholhah Nuhin
Keutamaan rasa malu
Keutamaan rasa malu © Grafoo | Dreamstime.com

Malu adalah sebagian dari iman, ia adalah perasaan yang ada di dalam hati. Perasaan yang akan mencegah seseorang melakukan satu keburukan.

Malu adalah sifat yang terpuji, akhlak yang mulia, bawaan yang baik, dan tabiat yang lurus.

Keutamaan rasa malu

Malu termasuk akhlaknya Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Said al-Hudri r.a:

“Sesungguhnya Rasulullah lebih pemalu dari seorang gadis perawan yang sedang dipingit.”

Demikianlah, sebagaimana iman dapat mencegah seseorang dari melukan keburukan, begitu pula rasa malu yang benar akan membuat seseorang mampu menjauhi keburukan dan mencegah perbuatan yang tidak terpuji.

Bukhori dan Muslim dalam hadis yang marfu’ (hadis yang disandarkan kepada Nabi) juga meriwayatkan:

“Iman memiliki tujuh puluh atau enam puluh cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.”

Malu semua sisinya adalah kebaikan, sebagaimana hadis Rasulullah SAW bahwa Baginda bersabda:

“Rasa malu seluruhnya adalah kebaikan.”

(Hadis riwayat Muslim)

Semakin jelas bagi kita bahwa malu adalah sifat baik yang syarat akan keutamaan dan tidak mendatangkan kecuali sesuatu yang juga baik.

Malu berbanding lurus dengan keimanan

Kalau iman diibaratkan sebagai sebuah pohon, maka dari sekian banyak cabang yang membuat pohon itu menjadi rindang dan kokoh adalah sifat malu. Semakin kokoh pohon keimanan yang tumbuh pada jiwa seorang mukmin, maka akan semakin besar rasa malunya.

Malu untuk melakukan kemaksiatan dan malu untuk meninggalkan kebaikan atau melakukan sedikit kebaikan. Maka demikian pula sebaliknya, semakin seseorang tidak memiliki rasa malu semakin lemah keimanannya.

‘Al-hayaa’u syu`batun minal iman,” malu adalah salah satu cabang dari keimanan. Malu adalah bagian dari keimanan itu sendiri. Rasa malu juga termasuk warisan dari para Nabi kepada ummat manusia.

Itu yang pernah disabdakan Rasululllah SAW:

“Sesungguhnya di antara yang didapatkan manusia dari perkataan (yang disepakati) para Nabi adalah; ‘Jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu’.”

(Hadis riwayat Imam al-Bukhori)

Sekiranya manusia sudah tidak memiliki rasa malu dalam jiwanya, dihadapan manusia lain dan bahkan dihadapan Allah SWT, maka manusia bisa berbuat apa saja yang diinginkan.

Tidak penting lagi, apakah yang dilakukan termasuk kategorikan kebaikan dan kebenaran atau sebaliknya, keburukan dan kemaksiatan. Hal ini jadi tidak penting lagi bagi manusia yang sudah hilang rasa malunya.