Khalil Mutran, pembaharu revolusioner puisi Arab

Dunia Muhammad Walidin 07-Sep-2020
KhalilMutran
Khalil Mutran © newlebanon.info

Britannica.com menyebut Khalil Mutran sebagai penyair Muslim humanis. Ia lahir 01 Juli 1872 di Baalbek, Lebanon.  Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Zahlah dan melanjutkan pendidikan tinggi di Kolej Katolik. Ia belajar bahasa Perancis dan juga bahasa Arab. Ia aktif menentang rezim Turki Usmani sehingga harus mencari suaka di Paris. Dari tahun 1890 hingga 1892 ia tinggal di Paris dan kemudian pindah ke Mesir hingga meninggal pada 01 Juni 1949.

Mutran menjadi penyair pembaharu yang cukup berpengaruh di dunia Arab. Ia tidak puas dengan bentuk puisi Arab tradisional dan berniat meninggalkan pola qasidah puisi Arab. Pola qasidah sangat terikat dengan aturan rigid rima dan ritma, multitema, dan memiliki bait yang sangat panjang. Hal ini dirasa tidak cocok dengan puisi modern yang memiliki pola kesatuan organik. Mutran menjadi inspirasi kolompok sesudahnya dalam pembaharuah puisi Arab, terutama kelompok Diwan dan Apollo.

Sebagai gantinya, ia mengimani model puisi Eropa setelah lama mempelajari sastra Perancis di Paris. Haluan inilah yang membedakannya dengan al-Barudi, pendahulunya dalam pelopor sastra Arab modern. Mutran membawa konsep baru di bidang puisi Arab, yaitu asas kesatuan organik dan struktur yang memperlihatkan hubungan dalam suatu konteks yang dipengaruhi teori strukturalisme Jean Piaget. Hal ini tentu sangat berbeda dengan konsep puisi Arab yang menampung banyak tema dalam sebuah episode puisi (Qasidah).

Dalam hal ini, Mutran berada di bawah pengaruh langsung puisi romantik Prancis, terutama puisi-puisi naratif Hugo, lirik-lirik Mussel dan Baudelaire. Di samping itu, Mutran juga berhasil menghancurkan pola qasidah yang telah kehabisan potensi-potensi politiknya dan diganti dengan pola perpuisian yang lebih bebas. Dalam karya-karyanya ada kecenderungan untuk mengungkapkan visi pribadinya yang bersifat individualistik, introspekstif, dan ekspresif. Hal ini dapat dimengerti, karena ia berpandangan bahwa puisi adalah seni yang berhubungan dengan kesadaran.

Mutran merupakan orang yang pertama kali mengembangkan aliran romantik dalam perpuisian Arab. Meskipun syair-syairnya sangat bernuansa romantik yang mengekspresikan pengalaman-pengalaman pribadi seputar cinta, kenangan masa kecil, sejarah jamannya, dan impian-impiannya, namun Mutran juga kritis terhadap situasi sosial yang melingkupinya. Melalui pementingan makna dalam puisi-puisinya, ia menyerang despotisme, tirani, perbedaan kelas, kebodohan, ketidakadilan sosial, dan membela perjuangan ke arah kemajuan dan kebebasan berpikir.

Karya puisinya dibukukan dalam antologi The Diwan of Khalil dan Weeping Lion. Yang penting dari revolusi puisi ala Mutran bahwa melalui karya-karyanya, terutama yang berjudul Nayrun, ia telah berhasil melepaskan diri dari dan berhasil meninggalkan pola Qasidah yang masih dipertahankan oleh al-Barudi, dan kawan-kawan.  Selain puisi, karya prosanya yang terkenal adalah Mirror of Days, mengandung sejarah singkat dunia. Mutran juga menerjemahkan beberapa karya Shakespeare dan Corneille ke dalam bahasa Arab.