Khianat dua istri utusan Allah Taala

Al-Quran Roni Haldi Alimi
Roni Haldi Alimi
Khianat dua istri utusan Allah Taala
Khianat dua istri utusan Allah Taala (foto: Gua Nabi Luth a.s, diyakini terletak di kawasan Laut Mati, Jordan) © islamiclandmarks.com

Biasanya seseorang akan mendapat pengaruh dalam dirinya ketika melakukan interaksi sosial, terutama dengan lingkungan keseharian. Jika lingkungan miliki kecenderungan baik, maka akan bisa membawa seseorang ke arah yang tentunya baik. Begitulah sebaliknya, keburukan perangai

seseorang banyak sedikitnya dipengaruhi pengaruh buruk lingkungannya. Begitulah hendaknya seorang perempuan jika dinikahi oleh seorang lelaki, baik budinya sudah barang tentu menularkan kebaikan terhadap istri pasangannya.

Balada dua istri Nabi

Ternyata tak selamanya berlaku seperti itu. Sejarah mencatat dua orang istri nabi. Teman hidup sepenanggungan sang suami. Keduanya, yang harusnya mendukung dan menyokong perjuangan dakwah, justru berbanding terbalik: memusuhi sengit.

Menolak lagi memusuhi dakwah ilallah sekaligus mendurhakai suami mereka. Dua perempuan itu adalah istri Nabi Luth ‘alayhis-salam dan istri Nabi Nuh ‘alayhis- salam.

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya tapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksaan) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).”

(Quran surah at-Tahrim, 66:10)

Dakwah Nabi Nuh a.s dan Nabi Luth a.s

Nabi Nuh ‘alayhis-salam adalah nabi yang tercatat telah mendakwahi kaumnya selama 950 tahun. Lama waktu dakwahnya tidak sebanding jumlah orang yang mengikutinya. Begitu berat perjuangan nabi Nuh.

Yang lebih sedihnya, orang terdekatnya sendiri, sang istri, tidak mendukung dakwahnya. Sang istri menentangnya, yakni dengan membantu musuh-musuh dakwah sang suami. Setiap kali ada orang yang secara rahasia menyatakan ikut dengan Nabi Nuh ‘alayhis-salam, istrinya membocorkan kepada para penentang dakwah.

Sementara itu, Nabi Luth ‘alayhis-salam menghabiskan hidupnya untuk mendakwahi kaumnya yang mempunyai penyakit sosial dan seksual. Kaum lelaki mencintai lelaki, dan kaum perempuan mencintai perempuan.

Di tengah kecaman sebagai keluarga yang sok suci, dan ancaman diusir dari negerinya tercinta, ternyata istri Nabi Luth ‘alayhis-salam tidak mendukungnya. Setiap kali ada tamu datang menemui Nabi Luth, istrinya selalu memberi tahu kepada kaumnya yang berpenyakitan akut.

Kalau tamu datang pada malam hari, dia menyalakan api. Kalau tamu datang di siang hari, dia membumbungkan asap. Begitulah disyarahkan oleh Imam Muhammad bin Ali Muhammad asy-Syaukani dalam kitab tafsirnya, ‘Fathul Qadir’ (jilid 6).

Khianat dua istri utusan Allah Taala

Hidayah itu mutlak dari Allah SWT semata. Namun, kehendak Allah takkan bisa dibatasi oleh ketentuan-Nya. Ketentuan bahwa idealnya istri dari lelaki saleh harus yang salehah ternyata tak bisa membatasi kehendak-Nya.

Walau hidup serumah dengan suami yang saleh lagi seorang nabi utusan Allah Taala, ternyata itu tak mampu menghalangi kehendak hidayah jauh dari keduanya. Tatkala khianat kedua istri nabi tersebut melampaui batas, kesudahannya mereka ditimpakan azab di dunia dan ganjaran neraka di akhirat.

Tiada daya upaya kedua nabi itu sekalipun agar mampu meloloskan sang pendamping hidupnya. Khianat teman hidup serumah sungguh menyakitkan. Lama masa dijalani, banyak rasa saling didapati diterima dalam kehidupan rumah tangga. Siang dan malam dilalui bersama, rupanya kesalehan diri sang suami tak menjadi tolak ukur.

Kesalehan itu tak terbawa berpindah kepada sang istri. Di sisi lain, predikat seorang nabi juga tak menjamin diri bisa berkehendak mengatur hidayah sesuka hati. Sungguh, kehendak Allah SWT pasti mengubah posisi ketentuan yang berlaku atas segalanya.