Kiprah Muslimah sebagai pemimpin

Kehidupan Kkartika Sustry 22-Agu-2020
Kiprah Muslimah sebagai pemimpin © Ahmad Hafiz Ismail | Dreamstime.com

Islam memuliakan perempuan dan memberikan peran dalam kehidupan, baik sebagai manusia sama halnya dengan laki-laki maupun sebagai hakikatnya perempuan. Sebagai manusia laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama, yang paling takwalah yang paling mulia di hadapan Allah SWT, sementara sebagai jenis perempuan Islam memberikan peran sesuai kodratnya yakni menjadi seorang istri, ibu generasi dan pengatur rumah tangga.

Perempuan berkarir di luar rumah tidak ada larangan hanya saja tetap menjadikan tugas pokoknya sebagai istri di rumah tidak ditinggalkan. Sama halnya ketika hak seorang perempuan dalam berpendapat, menuntut ilmu, bermuamalah juga berdakwah. Islam juga tidak merendahkan martabat perempuan melainkan mengangkat dan memuliakan kedudukannya sebagaimana perempuan diberi kelebihan menjadi seorang ibu dan memiliki rahim yang tidak bisa dilakukan oleh laki-laki.

Islam tidak mengekang perempuan untuk selalu berkarya dan melakukan aktifitas di luar rumah. Hanya saja ada aturan-aturan yang tidak bisa dia tinggalkan sebagai seorang istri. Tokoh yang tidak asing lagi yaitu Sayyidah Khodijah r.a istri Rasulullah SAW yang menjadi dermawan, berdakwah bahkan banyak tokoh penting yang masuk Islam melalui dakwahnya.

Sosok lain yang tak kalah penting yaitu Siti Aisyah r.a, istri Rasulullah SAW yang dikenal dengan kecerdasanya menjadi pendakwah dan rujukan umat Islam untuk bertanya persoalan agama selepas Rasulullah wafat. Ada pula Nusaibah binti Ka’ab (Ummu Imarah) wanita yang turut dalam bai’at aqobah kedua. Beliau juga ikut dalam perang Uhud, bahkan menjadi pelindung Rasulullah saat pasukan mulai menyerang dan ketangkasan dalam berperang mendapatkan pujian.

Pada dasarnya tidak ada pembeda secara fundamental derajat antara laki-laki dan perempuan sebagaimana dalam al-Quran, surah an-Nisa, ayat 124: “Barang siapa yang mengerjakan amal amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam Surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.”

Berdasarkan ayat ini juga dapat diketahui bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki kedudukan yang sama dalam melakukan amal saleh. Dengan demikian baik laki-laki maupun perempuan bisa meraih cita-cita dan kesuksesan yang diinginkan.

Perempuan memiliki hak yang sama dalam ranah publik seperti pejabat daerah, bahkan sebagai seorang pemimpin negara. Terlebih pada saat ini perempuan sudah mendapatkan hak nya, sebagai bukti negara yang pernah dipimpin oleh perempuan yaitu Afghanistan: Benazir Bhutto juga di Indonesia Megawati Soekarnoputri.

Namun, dalam batasan-batasan tertentu perempuan tetap menjadi kodratnya sebagai istri yang kedudukannya tidak melebihi suaminya. Hal ini ditinjau dari aspek perempuan memiliki sifat yang lemah. Imam al-Baghawi dalam kitab Syarh as Sunnah menjelaskan bahwa seorang pemimpin harus keluar untuk berjihad dan mengurus urusan (permasalahan) umat.

Sedangkan perempuan tidak mampu untuk mengatur urusan orang banyak (umat) karena ia lemah (Li ‘ajziha) dan juga kurang memiliki kecakapan (naqsiha). Tetapi mafhum mukhalafah bahwah perempuan tetap bisa menjadi seorang pemimpin hanya saja bagi yang kuat dan mampu.