Kisah burdah – jubah Rasulullah SAW

Agama Muhammad Walidin 27-Okt-2020
dreamstime_s_69122166
Kisah burdah - jubah Rasulullah SAW © Kitti Kahotong | Dreamstime.com

Jubah atau burdah Rasulullah SAW memiliki kisah yang menarik. Pertama, ia diberikan kepada Ka’ab bin Zuhair r.a atas puisinya yang memuji Rasulullah. Kemudian jubah itu diberikan kepada al-Bushiri sehingga ia bisa menyelesaikan kasidahnya.

Mari kita simak perjalanan jubah yang legendaris ini.

Ka’ab bin Zuhair r.a penerima pertama burdah Rasulullah SAW

Adalah Ka’ab bin Zuhair r.a yang pertama kali mendapatkan burdah ini. Ka’ab adalah kakak kandung Bujair bin Zuhair. Keduanya adalah penyair dan keduanya merupakan putra penyair besar Jahiliyah; Zuhair bin Abi Salma.

Bujair masuk Islam di akhir tahun 7 hijriyah, lebih dahulu ber-Islam daripada Ka’ab r.a. Keislaman Bujair membuat Ka’ab murka dan membuat puisi Hija (ejekan). Ia menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai al-Ma’mun  yang telah mencekoki Bujair dengan minuman keras hingga melupakan agama nenek moyang mereka. Puisi ini terdengar oleh Rasulullah dan sahabat. Para sahabat berang karenanya dan mahu membunuhnya.

Sepulang dari Taif bersama Rasulullah SAW, Bujair mengirim surat kepada Ka’ab r.a agar ia segera mendatangi Rasulullah untuk meminta maaf atas puisinya itu. Sejak saat itu, Ka’ab merasakan dunia yang lapang menjadi sempit. Ia tidak tenang karena waswas bertemu para sahabat Baginda.

Ia meminta perlindungan kepada pemuka kabilah namun diabaikan. Akhirnya ia menemui sahabatnya dari Bani Juhanah yang telah masuk Islam dan memintanya memfasilitasi pertemuan dengan Nabi.

Di Masjid Nabawi, Ka’ab r.a tidak memperkenalkan jati dirinya karena takut. Ia hanya mengatakan secara diplomatis bila seandainya si tamu ini (sebenarnya adalah Ka’ab) membawa Ka’ab untuk meminta maaf, apakah Rasulullah SAW akan memaafkannya?

Rasulullah SAW memaafkan Ka’ab r.a

Rasulullah SAW menjawab tentu saja akan memaafkan. Setelah mendapat jawaban yang positif ini, Ka’ab r.a barulah mengakui dirinya sebenarnya. Majelis sahabat langsung gaduh dan siap mahu membunuhnya. Namun Rasulullah mencegah dan gembira dengan kehadiran Ka’ab.

Pada pertemuan itu, Ka’ab r.a mendendangkan puisinya yang berjumlah 54 bait di hadapan Nabi Muhammad SAW. Puisi ini terkenal dengan judul Baanat Su’ad. Salah satu bait puisinya memuji Rasulullah:

ان الرسول لسيف يستضاء به # مهند من سيوف الله مسلول

“Sesungguhnya Rasul adalah pedang yang berkilau yang ditempa di India sebagai salah satu pedang Allah yang terhunus.”

Mendengar puisi ini, Rasulullah SAW gembira dan melemparkan (sebagai bentuk kegembiraan spontan) burdahnya kepada Ka’ab r.a. Perjalanan burdah ini akhirnya sampai ke tangan Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Saat ingin membelinya dari Ka’ab seharga 10.000 dirham, Ka’ab menolaknya.

Namun, ia berhasil membelinya setelah kematian Ka’ab r.a seharga 20.000 dirham. Burdah ini diwariskan turun temurun oleh para penguasa Umayyah dan Abbasiyah untuk dipakai pada dua hari besar Islam. Bahkan perjalanan burdah ini sampai kepada sultan-sultan dinasti Turki Usmani.

Burdah dan mimpi imam al-Bushiri

Entah bagaimana, burdah ini kemudian dikaitkan dengan imam al-Bushiri (1213-1294 Masehi), penyair Mesir terkenal dengan Syi’r al-Burdah. Diceritakan bahwa saat menulis syair pujian kepada Rasulullah SAW, Bushiri sedang sakit keras (lumpuh) dan sulit bergerak. Ia berusaha menyelesaikan syair tersebut hingga tertidur.

Dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu Rasulullah SAW yang menyuruhnya untuk menyelesaikan syairnya. Ia menjawab tidak bisa lagi karena lelah dan sakit. Rasulullah membaca bait ke 51 (terakhir) yang ditulis al-Bushiri: fa mabla’ ul ilmi fihi annahu basyar. Akhirnya Rasulpun menambahkan satu bait terakhir Wa anna khaira khalqillahi kullihimi.

Dalam mimpi itu, Rasulullah SAW mengusapkan burdah dan memakaikannya kepada al-Bushiri. Ajaib, saat terbangun ia tak merasakan lagi sakitnya. Dengan semangat, ia meneruskan menulis syair yang memuji Rasulullah hingga genap 160 bait.