Kisah Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa

Asia 02 Apr 2021 Asna Marsono
Asna Marsono
Kisah Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa
Kisah Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa © Lutfi Hanafi | Dreamstime.com

Demak adalah sebuah kota Pelabuhan yang tidak dikenal banyak orang sebelum berdirinya Kesultanan Demak, yang merupakan Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.

Asal usul Demak

Buku karya Graaf dan Pigeaud menyatakan bahwa penemu kota Demak adalah seorang Muslim keturunan Tiongkok dari Gresik. MC Ricklefs juga mengatakan bahwa pendiri Demak adalah Cek-ko-po.

Orang tersebut kemudian menjadi saudagar kaya yang dikenal oleh pedagang lainnya dan kemudian menjadi pemimpin daerah tersebut. Penemu kota ini diperkirakan hidup hingga akhir abad ke-15. Seseorang ini pun dalam masa hidupnya diberikan gelar ‘Pati’ oleh Majapahit.

Meneruskan perjalanan ayahnya, Pate Rodin lahir dan kemudian menaklukkan Palembang. Ia diberi julukan ‘Prabu Anon’ dan ‘Aria Sumanggung’ oleh raja kerajaan Majapahit.

Menurut Babad Tanah Jawa, Kesultanan Demak didirikan oleh Jin Bun atau Raden Patah sebagai pewaris tahta kerajaan Majapahit terakhir. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa pusaka kerajaan Majapahit berada di daerah Kesultanan Demak.

Meski teori mengatakan hal berbeda-beda mengenai asal usul Kesultanan Demak, namun dibangunnya Masjid Agung Demak sebagai pusat pemerintahan menjadi penanda yang pasti mengenai sejarah berdirinya kesultanan ini.

Raja-Raja Demak

Meskipun Kesultanan Demak memiliki umur yang tidak panjang karena akhirnya terpecah-belah lantaran konflik internal kerajaan, namun kejayaan Kerajaan Demak selalu diingat dalam sejarah Pulau Jawa.

Tome Pires merupakan penulis Eropa sebelum abad ke-18 yang menjelaskan mengenai proses pengislaman Pulau Jawa. Di saat penulisan, Kesultanan Demak sedang dipimpin oleh raja ketiga. Menurut Tome Pires dalam karyanya Suma Oriental, raja-raja dalam kesultanan ialah sebagai berikut:

  1. Seseorang dari Gresik (tidak diketahui namanya)
  2. Pate Rodim (Raden Patah)
  3. Pate Rodim

Menurut Hikayat Hasanuddin (abad ke-17), raja-raja Kesultanan Demak adalah:

  1. Cek-ko-po
  2. Pangeran Sumangsang
  3. Sultan Trenggana

Kejayaan Kesultanan Demak

Dari catatan Tom Pires yang mengalami kejayaan Kesultanan Demak, ia mencatat bagaimana hebatnya kerajaan tersebut, Pada tahun 1513, ia mencatat bahwa Kesultanan Demak telah menguasai pesisir utara Pulau jawa dan selatan Sumatra.

Demak mengalami kemajuan pada periode Sultan Trenggana. Kehebatan Sultan Trenggana dan peluasan kerajaan tidak berhenti hingga akhir hayatnya di tahun 1546.

Pada tahun 1528, ia mengalahkan Tuban yang memiliki hubungan kuat dengan Majapahit, yang telah diislamkan. Kemudian pada waktu yang sama terdapat pemimpin dari Madura yang menjadi seorang Mualaf sehingga Sultan Trenggana tidak menginvasi daerah Madura.

Pada tahun 1542, Lamongan dan Blitar telah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Kemudian pada tahun 1546 Sultan Trenggana pergi menuju pinggiran Jawa untuk bertarung melawan Panarukan. Namun, nahasnya ia terbunuh dalam medan perang, dan perjalanan Kerajaan Demak terhenti hingga di sini.

Kemunduran Kesultanan Demak

Tanda-tanda awal kemunduran kerajaan Demak sudah terlihat sejak datangnya koloni Portugis di Melaka pada tahun 1511, jauh sebelum kematian Sultan Trenggana. Melaka pada saat itu merupakan pusat perdagangan dan pertumbuhan kerajaan Islam di Nusantara. Melaka merupakan simbol dari kejayaan dan keagungan syahbandar Muslim di Asia Tenggara.

Melihat hal ini, Sultan Trenggana tidak berdiam diri. Beliau berjihad untuk mengembalikan kekuasaan Melaka ke tangan masyarakat Muslim dengan terus membombardir pasukan Portugis lewat artileri dan kapal-kapalnya yang hebat.

Namun, dengan berjalannya waktu Portugis berkembang menjadi koloni yang besar dan mampu mengalahkan kapal-kapal yang datang dari Pelabuhan Demak. Hingga akhirnya, hanya 10 kapal perang tersisa antara Pelabuhan Demak dan Palembang.

Dengan ini, Demak mulai kehilangan satu persatu kota Pelabuhan di Pulau Jawa, dan Portugis menguasai jalur perdagangan Melaka hingga Maluku. Akibat kekuatan Kesultanan Demak yang melemah, diikuti juga dengan kematian Sultan Trenggana, Kesultanan Demak dinyatakan hancur.