Kisah Siti Masyitah, si perias anak Firaun

Agama Kkartika Sustry 19-Nov-2020
 Lumière baissée intérieur avec tapis et lampe
Kisah Siti Masyitah, si perias anak Firaun © Ilkin Guliyev | Dreamstime.com

Setiap kita ada ujian dalam menjalani kehidupan, tingkat kesulitan dan penyelesaianpun berbeda-beda. Ada yang diuji dengan kekhawatiran miskin, ada yang diuji dengan berbagai permasalahan keluarga bahkan ada yang diuji dengan harta.

Namun, hal demikian agar kita menjadi insan yang bertakwa kepada Allah SWT dalam situasi apapun. Satu hal yang bisa kita lihat bagaimana perjuangan seorang hamba Allah dalam menjalani hidupnya menjadi contoh bagi kita yaitu Siti Masyitah.

Siti Masyitah tukang sisir (perias) anak Firaun

Nama ini memang tidak sefamiliar nama artis saat ini. Tapi dialah seorang pejuang yang hebat dalam Islam ketika dia tetap mempertahankan keteguhan hati untuk tetap beriman ketika terbelenggu dalam kehidupan Raja Firaun.

Kitab Qishatul Mi’raj bercerita mengenai perjalanan Rasulullah SAW ketika menjemput perintah salat. Ketika itu Rasulullah mengetahui adanya aroma harum dari daerah yang dilewatinya sehingga ia bertanya kepada malaikat Jibril, bau harum apakah ini? Akhirnya Jibrilpun menjawab bahwa ini harum keluarga Siti Masyitah.

Dialah salah satu keluarga yang hidup di masa Nabi Musa a.s. Tepatnya hidup dalam lingkungan Raja Firaun yang kejam namun dia tetap beriman kepada Allah SWT dan menjadi syahid. Siti Masyitah tukang sisir anak Firaun atau sekarang lebih dikenal dengan perias. Suami Siti Masyitah bernama Hazaqil yang menjadi penjaga istana, mereka dikaruniai dua anak dan yang terkecil berusia tujuh bulan.

Tugas Siti Masyitah sebagai perias anak Firaun. Suatu hari ia sedang menyisir rambut anaknya kemudian sisir itu terjatuh. Kemudian ketika mengambil sisir tersebut lisan Siti Masyitah mengucapkan “Bismillah, ta’is Firaun” yang bermakna menyebut nama Allah dan celakalah Firaun.

Ucapan tersebut didengar oleh anak Firaun kemudian dia bertanya, “Apakah engkau punya Tuhan selain bapakku?” Dengan teguh Masyitah menjawab, “Iya, yaitu Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan ayahmu Allah SWT.” Akhirnya ucapan tersebut diadukan kepada Firaun yang membuat Firaun murka dan segera memanggil Siti Masyitah.

Teguh mengimani dan percaya adanya Allah SWT

Ketika Firaun mengetahui kebenaran tersebut, dengan kejamnya ia memerintahkan kepada para pengawal untuk membuat wadah panas yang di sana ada minyak sedang mendidih. Hal ini kemurkaan Firaun yang tidak diakui sebagai Tuhan.

Siti Masyitah dan keluarga tetap teguh untuk mengimani kitab Taurat yang dibawa Nabi Musa a.s sehingga apapun yang akan dihadapi mereka tetap percaya adanya Allah SWT. Melihat api yang panas dan minyak mendidih Siti Masyitah sedih dengan mata sendiri menyaksikan suami dan anak sulungnya dilemparkan ke kawah besar tersebut.

Ketika anak ia sedang menggendong anaknya yang masih berumur tujuh bulan, awalnya ia meragu tetapi tiba-tiba Allah SWT memberi kekuasaan anaknya bisa berbicara dan membisikkan keyakinan “Biiznillah, duhai ibuku masuklah ke wadah tersebut bersamaku sesungguhnya engkau di jalan yang benar.” Maka bertambahlah keyakinan ibunya tersebut, sehingga mereka satu keluarga selamat dari ujian Allah dan mendapati tempat terbaik dari-Nya.

Ujian memang tidaklah mudah. Namun, ketika kita menderita di dunia dan jika kita di jalan yang benar yakinlah, Allah SWT menyiapkan Surga terbaiknya. Perjuangan Siti Masyitah ini memberi kita pelajaran bahwa sekalipun dalam keadaan terdesak tetaplah teguh memegang agama Allah. Insya Allah, ada jalan terbaik dari-Nya.