Kisah Sunan Kalijaga dan dakwahnya dalam menyebarkan ajaran Islam

Sejarah Asna Marsono
Asna Marsono
Kisah Sunan Kalijaga dan dakwahnya dalam menyebarkan ajaran Islam
Kisah Sunan Kalijaga dan dakwahnya dalam menyebarkan ajaran Islam © TribunTravel

Sunan Kalijaga, dengan nama lain Raden Said, dan juga Lokajaya, atau Syekh Malaya. Beliau adalah anak dari adipati Tuban bernama Tumenggung Wilaktika.

Sunan Kalijaga merupakan salah satu Wali Abangan yang terkenal dan juga merupakan salah satu dari sembilan wali (Wali Songo) yang memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa.

Umur Sunan Kalijaga

Waktu lahir dan kematian Sunan Kalijaga tidak diketahui secara pasti. Ada banyak versi yang menceritakan tentang hal ini. Yang paling terkenal adalah, dikisahkan bahwa Sunan Kalijaga hidup pada tiga zaman, yaitu zaman kerajaan Majapahit, Demak, dan Pajang.

Kisah lain menceritakan bahwa Sunan Kalijaga berperan dalam pembangunan Masjid Agung Demak dan Masjid Agung Cirebon. Beliau juga menikahi salah satu anak perempuan dari Sunan Ampel.

Dari versi-versi ini, dapat diambil kesimpulan bahwa Sunan Kalijaga hidup dengan umur yang panjang.

Apa arti dari nama Sunan Kalijaga?

Nama Kalijaga, diambil dari ‘Kali’ yaitu Sungai dan ‘Jaga’ yaitu ‘Menjaga’. Ini karena konon katanya beliau suka bersemadi di pinggir kali atau sungai.

Kemudian ada juga tafsiran lain mengenai makna dibalik Kalijaga, yang mempercayai bahwa nama Kalijaga berasal dari Bahasa Arab. ‘Qadli’ berarti ‘Hakim’, dan ‘Zaka’ adalah ‘Suci’.

Dalam konteks ini, makna Kalijaga berarti seseorang yang menjaga ajaran suci agama Islam.

Sosok Robinhood sebelum mengenal Islam

Kisah mengatakan bahwa sosok muda Sunan Kalijaga yang bernama Raden Said merupakan pemuda yang terlibat dalam tindakan begal. Beliau melakukan aksi perampokan di penjuru Tuban, hingga akhirnya beliau diusir oleh ayahnya sendiri, yang merupakan adipati Tuban.

Yang tidak diketahui pada waktu itu adalah bahwa Raden Said merampok harta-harta orang kaya dan membagikannya kepada orang yang membutuhkan.

Kala itu daerah kumuh Tuban sangat memprihatinkan karena datangnya musim paceklik.

Kisah di balik nama Kalijaga

Suatu hari, ketika Raden Said menjumpai Sunan Bonang saat dalam perjalanan dakwahnya, Raden Said sempat mencoba untuk membegal sesepuh Sunan Bonang. Tak disangka oleh pemuda Raden Said, bahwa ia tidak bisa mengalahkan seorang kakek tua karena kesaktiannya.

Takjub oleh kesaktian Sunan Bonang, Raden Said memohon untuk menjadi salah satu murid Sunan Bonang. Sunan Bonang akan menerima Raden Said sebagai muridnya dengan satu syarat, bahwa Raden Said harus bertapa di pinggir kali hingga Sunan Bonang datang kembali pada dirinya. Raden Said pun menyanggupi syarat tersebut.

Alkisah Sunan Bonang lupa dengan perjanjian tersebut hingga tiga tahun lamanya. Saat menyadari perjanjian dengan Raden Said, beliau kembali ke tempat tersebut dan menemukan Raden Said masih dengan keteguhannya bertapa di pinggir kali meski tubuhnya sudah dipenuhi dedaunan.

Sunan Bonang mengapresiasi komitmen Raden Said, dan akhirnya menerima Raden Said menjadi muridnya. Dari sini Raden Said mendapat julukan Sunan Kalijaga.

Metode dakwah Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga dikenal sebagai wali yang menggabungkan tradisi-tradisi Jawa dengan ajaran agama Islam. Beliau percaya bahwa cara halus ini akan lebih bermakna dan menyentuh hati masyarakat ketimbang cara-cara radikal dan memaksa.

Beliau menggabungkan kesenian wayang dalam Wayang Purwa, berperan dalam musik dan drama, juga seni melukis, dan ukiran-ukiran. Sunan Kalijagalah yang mengadaptasi Gamelan Jawa untuk digunakan di langgar atau masjid.

Hal ini mengacu pada upacara Sekaten yang dilakukan masyarakat, untuk merayakan Maulud Nabi atau hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Karya Sunan Kalijaga

Dalam dunia seni, ada banyak karya dari Sunan Kalijaga yang legendaris, bahkan masih dikenal sampai kini. Lagu Lir-Ilir dan Gundul-gundul Pacul ­merupakan ciptaan beliau.

Ada juga Suluk Linglung dan Serat Dewa Ruci, yang mengisahkan tentang ajaran sholat dan mendekatkan diri kepada Sang Kuasa. Sunan Kalijaga juga yang mendesain letak tata kota Kerajaan Jawa, atau lebih dikenal dengan Mancapat.

Unsur-unsur yang selalu di temukan di masa kerajaan Islam, yaitu Keraton, Alun-alun, Pasar, dan Masjid sebagai pusat kota. Jika main ke kota-kota di Pulau Jawa, unsur Mancapat ini masih bisa terlihat jejaknya.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.