Kita dan kapasitas – ingin menuntut seperti orang, tapi…

dreamstime_s_141429308
Kita dan kapasitas © Marcos Calvo Mesa | Dreamstime.com

Pernah dengar  anekdot tukang beca membawa beca dengan ugal-ugalan?. Ketika sampai tujuan, sang penumpang komplen karena jantungnya hampir copot. Apa kata tukang beca, ‘Bayar lima ribu rupiah kok, minta selamat’. Selidik punya selidik sebenarnya ongkos beca itu 10 ribu rupiah, tapi sang penumpang terus menawar.

Maka dengan terpaksa karena tak ada penumpang, dia angkut juga itu penumpang. Alhasil, dia bawa penumpang tersebut dengan ngebut dan ugal-ugalan. Ya, kadang kita menuntut sesuatu yang ideal, tetapi tidak melihat kondisi real yang meliputinya.

Sebagian kita ada yang  ingin makan bakso Malang atau makan lezat rasa mall tapi hanya punya uang harga kaki lima. Ingin nyaman berkendaraan seperti naik taksi,  tapi  hanya punya ongkos bis kota.

Ingin tidur nyenyak seperti di hotel bintang lima tapi hanya punya uang harga hotel kelas melati. Ingin istri tetap cantik, fit dan membuat betah di rumah, tapi memberi uang belanja pas-pasan.

Ingin pendidikan anaknya bagus dan bermutu tapi hanya sanggup bayar Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP)  ala kadarnya.  Ingin orang lain bekerja dengan baik dan tekun di perusahaannya, tapi membayar upah dibawah standar. Tentu ini tidak ketemu.

Orang banyak menuntut agar kita ikhlas seperti Khalid bin walid r.a saat dipecat Umar r.a. Tapi tidak pernah melihat kepribadian dan keikhlasan Umar r.a hingga membuat Khalid ikhlas menerima dipecat dari pangkat panglima.

Orang banyak menuntut agar kita banyak berkorban seperti Khadijah r.a. Tapi tidak melihat keagungan pribadi Rasulullah SAW yang  menyebabkan Khadijah mengorbankan seluruh hartanya.

Orang banyak menuntut agar engkau tegar dan tabah seperti Fathimah r.a binti Rasulullah SAW. Tapi tidak melihat lelaki kuat seperti Ali bin Abi Thalib r.a yang membuatnya sanggup tabah dan tegar.

Jadi, ketika kita menuntut sesuatu dari seseorang,  sebaiknya kita melihat sejauh mana kita sudah memenuhi syarat-syarat hingga kita layak untuk dipenuhi tuntutannya. Berhentilah menuntut sesuatu yang sempurna, sementara diri kita penuh kekurangan.

Sebesar apa kapasitas kita, sebesar itu pula penerimaan orang dengan kita. Sebesar apa jasa yang kita tanam, sebesar itu pula balasan yang kita tuai.