Kita dan keberpihakan

Muslim friends greet reach other, happy, kindness
Kita dan keberpihakan © Rawpixelimages | Dreamstime.com

Kebenaran dan kebatilan akan terus ada sampai matahari tak lagi terbit di ufuk Timur. Membesar dan mengecilnya selalu tergantung pada banyak dan sedikitnya pendukung.

Penyeru dan pendukung kebatilan bekerja siang dan malam dan menguras semua energi untuk merealisasikan rencananya. Sebagaimana halnya penyeru dan pendukung kebenaran juga begitu.

Kita dan keberpihakan

Antara keduanya kadang samar, sulit untuk membedakan, ini di pihak yang mana. Sebab bisa jadi kedua duanya memiliki simbol yang sama seperti berpeci, berkerudung, salat dan puasa, fasih mengucapkan salam, berada di majlis majlis zikir, dll.

Tapi semakin kerasnya pertarungan, maka akan terlihat keberpihakan dan pertemanan. Semakin derasnya arus, semakin terlihat mana batu karang dan mana buih. Semakin panasnya api, semakin terlihat mana besi dan mana karatnya

Peperangan adalah bentuk terkeras dari pertarungan dan secara fitrah adalah sesuatu yang dibenci dan tidak disukai. Tapi Allah SWT juga menjelaskan bahwa bisa jadi kamu tidak suka terhadap sesuatu ternyata itu baik bagimu.

Maka kerasnya pertarungan akan memperlihatkan jati diri seseorang. Dan itu adalah salah satu kebaikan yang Allah SWT isyaratkan. Agar dengannya kita bisa mengetahui siapa di pihak yang mana.

Engkau akan lihat siapa para penjilat dan pendusta. Kau akan tahu mereka yang mengatas namakan dirinya sebagai ulama tapi menjual agamanya. Kau akan lihat politisi yang hanya ribut saat akan pemilu dan pilkada, tapi diam membungkam seribu bahasa saat al-Quran dinista.

Tapi engkau juga akan melihat ulama ulama yang tegar, pejuang yang tangguh dan pemuda pemuda yang bersemangat.

Maka, jangan sedih jika engkau mendukung kebenaran lalu kau temui di jalannya banyak rintangan. Jangan risau jika di setiap tikungan kau temukan onak dan duri. Kau akan dipaksa berjalan di krikil krikil yang tajam.

Jika engkau ingin kebaikan, akan selalu dihalang halangi, bahkan diintimidasi dan ditakut takuti. Sementara disampingmu kau lihat jalan yang mulus, makanan yang lezat dan minuman yang segar mengodamu.

Kualitas umat Islam

Inilah jalan itu dan di jalan inilah akan terlihat kualitas umat. Untuk mengetahui kualitas umat jangan pernah mengukurnya dengan banyaknya mereka yang berdesak desakan di sekeliling Kakbah atau saat istighasah. Tapi lihatlah sikap mereka ketika Islam dihina, al-Quran dinista dan simbol simbol agama yang sakral dilecehkan

Demikianlah sunatullah, semakin kerasnya pertarungan dan tekanan, semakin terlihat siapa pejuang dan siapa pecundang.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah SWT orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar”.

(Surah al-i Imraan, 3:142)

Dan itulah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan surga tempat seluruh kenikmatan.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?  Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

(Surah al-Baqarah 2:214)

Saatnya kita menentukan keberpihakan. Sebab keberpihakan di sini, di alam fana akan menentukakan kita berada di pihak yang mana di sana, kelak di alam baka