Kita dan rapor kehidupan

dreamstime_s_160117365
Kita dan rapor kehidupan © Airdone | Dreamstime.com

Pernah mendampingi anak menerima rapor atau laporan resminya? Bagaimana reaksi anak ketika diperlihatkan nilai rapornya? Tentu beragam. Ada yang senang dan gembira, bahkan bergegas ingin memperlihatkan hasil ujian dengan bangga.

Ada yang sedih dan malu, bahkan berusaha menyembunyikan rapor tersebut agar tak dibaca orang lain. Mengapa demikian? Karena rapor tersebut adalah bukti dari karya yang diukir dan diperbuat. Ia adalah tanda, apakah akan melangkah ke jenjang selanjutnya? Atau tertinggal dan tertahan, belum dapat melanjutkan.

Kehidupan umpama kertas yang diisi tulisan

Kehidupan ini adalah kertas yang setiap hari kita isi dengan tulisan. Inilah kita dan rapor kehidupan. Semua perbuatan kita terekam dengan rapi di kertas itu. Sekecil apapun dari amal-amal itu, takkan pernah luput dan terhapus.

“Diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.”

(Surah al-Kahfi 18, ayat 49)

Kelak kertas tersebut akan dibagikan kepada kita. Bila yang kita tulis itu amal kebaikan akan kita menerimanya dengan senang hati. Dalam al-Quran surah al-Kalam 68, ayat 19-22, Allah SWT berfirman:

“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “Ambillah, bacalah kitabku (ini)”. Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridai, dalam Surga yang tinggi.”

Hindari tulisan yang membawa keluh kesah dan kesedihan

Bila yang ditulis itu amal keburukan maka kelak kitab itu akan diterima dengan keluh kesah dan kesedihan. “Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini).

Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku.” (Surah al-Haqqah 69: ayat 25-29)

Begitulah, kehidupan akan meninggalkan jejak rekam setiap langkah, dan menentukan bahagia atau sengsara, kelak di alam sana.