Kita yang memaafkan dan kita yang marah

Kehidupan Komiruddin 09-Sep-2020
dreamstime_s_163142122
Memaafkan atau marah? © Amenic181 | Dreamstime.com

Ada saatnya kita marah. Ada saatnya kita memaafkan. Marah terus bukan akhlak seorang Muslim. Memaafkan terus pertanda lemahnya kepribadian. Dalam urusan pribadi menahan marah dan memaafkan terpuji. Apalagi yang bersalah itu tidak paham atau sudah mengakui kesalahannya, minta maaf dan ada tanda tanda bertobat.

Ketika ada Arab Badwi kencing di masjid, para sahabat ingin membentak dan menghalaunya. Tapi Rasulullah SAW melarang. Sehingga setelah selesai dia dipanggil dan diberi arahan. Tidak ada kemarahan. Sebab Baginda tahu bahwa Arab Badwi itu tidak tahu.

Ketika Nabi Muhammad SAW disakiti oleh seorang Arab Badwi dengan menarik sorbannya hingga membekas di leher Baginda yang mulia, Rasulullah tidak marah bahkan memaafkannya dan memberi apa yang beliau minta.

Dalam urusan yang menyangkut lembaga, institusi atau simbol, marah adalah marwah dan memaafkan adalah hina dan menodai harga diri. Apalagi yang bersalah itu musuh yang sudah beberapa kali menyakiti kaum Muslimin.

Ketika salah seorang wanita Muslimah dilecehkan seorang Yahudi, seorang pemuda Muslim langsung menusuk si Yahudi tersebut. Hasilnya pemuda Yahudi tersebut tewas. Tapi pemuda Muslim tersebut akhirnya dikeroyok dan ia pun syahid bersimbah darah.

Bagaimana sikap Rasulullah SAW terhadap hal ini? Baginda mengumpulkan para sahabat untuk mendatangi perkampungan Yahudi ini dan akibatnya mereka harus menelan pil pahit dengan diusir dari kampung halaman mereka.

Ketika seorang Yahudi Ka’ab bin Asyraf menghina Rasulullah SAW, Baginda mengutus Muhammad  bin Maslamah r.a untuk membereskan si Yahudi tersebut. Hasilnya Ka’ab bin Asyraf tewas ditikam Muhammad bin Maslamah. Walaupun demikian, Rasulullah SAW juga memaafkan musuh-musuhnya yang benar-benar bertobat atau mengakui kesalahannya.

Kita semua tahu, Ikrimah adalah musuh bebuyutan Rasulullah SAW sampai kepada Fathu Makkah (Penaklukan Makkah). Baginda telah menghalalkan darahnya tapi istrinya yang sudah masuk Islam meminta agar Rasulullah memaafkan. Baginda pun memaafkannya.

Kita tahu Hatib bin Abi Baltaah, seorang sahabat senior yang membocorkan rahasia fathu Makkah. Tapi kita juga tahu bahwa dia veteran perang Badar. Jasanya yang besar ini membuat Rasulullah SAW memaafkan kesalahan yang besar itu. Apalagi dia telah menyesal terhadap perbuatannya.

Begitulah antara marah dan memaafkan. Terpuji di satu waktu tapi bisa juga tercela dan terhina di waktu lainnya. Jangan marah saat seharusnya memaafkan, atau jangan memaafkan saat seharusnya marah.