Konsep pelibatan: belajar dari Zulqarnain

dreamstime_s_101334938
Konsep pelibatan: belajar dari Zulqarnain © - Dreamstime.com

Setiap kita memiliki masalah. Ada yang bisa kita atasi sendiri, tapi banyak juga yang memerlukan bantuan orang lain.

Dalam kehidupan rumah tangga misalnya, ada banyak pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan oleh seorang bapak atau seorang ibu. Dari membersihkan rumah, menyapu, ngepel, cuci piring, ke pasar, mencari nafkah, dan sebagainya.

berpartisipasi dan menanggulangi masalah

Masing masing anggota keluarga wajib berpartisipasi dan dilibatkan dalam menanggulangi masalah setiap masalah yang ada. Tidak ada yang boleh menganggur atau hanya berpangku tangan. Begitu juga kita dalam kehidupan berjamaah, bermasyarakat dan bernegara. Semua harus terlibat membangun tidak boleh ada yang menganggur.

Pemimpin yang bijak adalah mereka yang mengetahui potensi dan kekuatan lalu melibatkan orang lain dalam menyelesaikan urusan dan problema yang selama ini mereka hadapi bersama.

Marilah kita belajar dari Zulqarnain, bagaimana ia menyelesaikan masalah yang selalu menghantui rakyatnya. Adalah di suatu negeri, penduduknya merasa terganggu dengan bangsa yang bernama Ya’juj wa Ma’juj (Gog dan Magog). Bangsa ini selalu merusak dan tidak pernah berbuat kebaikan.

Satu satunya cara agar mereka terhindar dari gangguan bangsa ini adalah membuat benteng  yang tinggi lagi kuat untuk memisahkan negeri mereka dengan negeri bangsa yang bengis tersebut.

Konsep pelibatan: belajar dari Zulqarnain

Permintaan itulah yang mereka sampaikan ke Zulqarnain saat ia sampai di negeri mereka. Mereka berkata:

“Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”

(Surah al-Kahfi, 18:94)

Mereka meminta agar Zulqarnain membuatkan dinding yang tinggi dan kuat dengan imbalan pembayaran, sementara mereka duduk menonton sambil berleha-leha. Zulqarnain bukanlah contoh Raja yang suka main proyek. Tentu ia tidak sepakat dengan upah yang akan diberikan sementara mereka duduk duduk saja.

Zulqarnain ingin memberikan pelajaran bahwa mengatasi masalah tidak cukup hanya dengan membayar sementara mereka hanya sebagai penonton. Ia menginginkan keterlibatan semua pihak sehingga tidak ada yang perpangku tangan walau punya uang. Dzulkarnain berkata:

“Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.”

(Surah al-Kahfi, 18:95)

Iapun melibatkan semua pihak untuk bersama sama bergotong royong.

“Berilah aku potongan-potongan besi.” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: Tiuplah (api itu)…”

(Surah al-Kahfi, 18:96)

Rahasia keberhasilan pemimpin sepanjang masa

Walau demikian Zulqarnain tidak berlepas tangan. Dia turun sebagai pelaku sekaligus pengarah atau arsitek dari pembangunan tembok yang sedang dibuat.

“…Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu.”

(Surah al-Kahfi, 18:96)

Di sinilah kita melihat, betapa seorang pemimpin di samping dia harus terjun langsung memberikan arahan dan bimbingan, dia juga harus melibatkan masyarakat dalam mengatasi persoalan hidupnya.

Dan inilah rahasia keberhasilan pemimpin sepanjang masa. Dia bukanlah sosok raja yang duduk di menara gading memberikan perintah di balik meja, tanpa paham apa yang diinginkan rakyatnya, atau memanjakan rakyatnya hingga tak merasakan betapa lelahnya bekerja.

Inilah cara pemimpin dalam menyelesaikan masalah. Yaitu dengan melibatkan semua pihak  dan mengerahkan seluruh potensi yang ada dalam bekerja dengan arahan dan terjun langsung di lapangan.