Korupsi merusakkan iman Muslim

Dunia Iman Terimo 04-Jun-2020
Korupsi merusakkan iman Muslim © Garudeya | Dreamstime.com

Islam menekankan peri pentingnya kita berinteraksi sesama teman-teman di tempat kerja. Berkaitan dengan ini,  Islam mengajar kita pespektif dinamik bagaimana sebagai Muslim kita seharusnya turut serta dalam suasana di tempat kerja.

Seperti yang dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW: “Seorang pedagang Muslim yang jujur dan amanah (terpercaya) akan (dikumpulkan) bersama para nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat (nanti).” (Hadis riwayat At-Tirmidzi)

Korupsi merupakan sesuatu kelaziman di tempat kerja. Tidak kira sama ada perniagaan yang baru bertapak, kepada industri yang sudah mantap, umat Islam berdepan dengan dilema yang menggugah keimanan. Ini perlu ditangani  dengan serius.

Ajaran Islam sering mengingatkan pengikutnya agar jangan sesekali menindas hak sesiapa sahaja, tidak kira apa agama mereka. Allah SWT dengan jelas menerangkan kita harus menegakkan keadilan sesama manusia. Malangnya, ada sesetengah orang yang cepat berjaya dengan mengamalkan cara yang serong, dan sekaligus merusakkan kerjaya orang lain.

Allah (SWT) dalam Al-Quran berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah kamu menjadi orang-orang yang senantiasa menegakkan keadilan, lagi menjadi saksi (yang menerangkan kebenaran) karena Allah, sekalipun terhadap diri kamu sendiri, atau ibu bapa dan kaum kerabat kamu. Kalaulah orang (yang didakwa) itu kaya atau miskin (maka janganlah kamu terhalang daripada menjadi saksi yang memperkatakan kebenaran disebabkan kamu bertimbang rasa), karena Allah lebih bertimbang rasa kepada keduanya.

Oleh itu, janganlah kamu turutkan hawa nafsu supaya kamu tidak menyeleweng dari keadilan. Dan jika kamu memutar-balikkan keterangan ataupun enggan (menjadi saksi), maka sesungguhnya Allah senantiasa Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan.” (Surah An-Nisaa 4, ayat 135)

Sebagai Muslim, kita sepantasnya menjauhkan diri dari nafsu keduniaan karena hidup ini hanyalah satu ujian yang kita mesti lalui demi untuk menikmati kebahagiaan di akhirat kelak. Kita perlu sedar setiap perbuatan harus dilakukan seiras dengan sunah Rasulullah SAW.

Menggunakan korupsi untuk mencabut hak orang lain mungkin memberi kepuasan dan kemenangan sementara, tetapi ia mempunyai akibat yang sangat dahsyat di belakang hari. Setiap pertubuhan mencapai status tertinggi bila pekerjanya dinilai berdasarkan kebolehan mereka. Korupsi merusakkan sistem ini dan membuka jalan kepada yang kurang berkebolehan untuk naik ke atas.

Sebagai hamba Allah SAW, kita mesti mengelakkan transaksi niaga yang dikotori dengan korupsi karena ia menghiris iman dan sikap kita terhadap mata pencarian yang halal.

Terdapat beberapa cara untuk menjauhkan korupsi. Kita perlu menanam sikap kerja yang positif yang menggambarkan komitmen kepada tugas kita. Ini akan membantu kita mempertingkat prestasi dan memperoleh ganjaran dalam pertubuhan kita.

Korupsi adalah jalan pintas yang membawa kesan yang buruk. Sikap dan cara yang positif dapat membantu mengelakkan tabiat songsang ini. Apakah yang mesti dilakukan sekiranya kita diberi rasuah atau korupsi?

Walaupun kita tahu korupsi diharamkan Islam, namun ada masanya kita gagal untuk menepis godaan ini, dan tanpa memikirkan kesannya, kita menerima korupsi itu. Tambahan pula, menolak korupsi mungkin menyebabkan perbalahan dan meletakkan kita dalam situasi yang sukar.

Memahami situasi amatlah penting bila kita menerima atau menolak korupsi. Fikirkan kesan keputusan yang kita ambil terhadap orang lain. Dan yang lebih penting, ingatlah bahwa Allah SWT melihat segalanya dan tidak pernah lupa.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Allah melaknat orang yang memberi korupsi dan orang yang menerima korupsi dalam satu perkara.” (HR At-Tirmidzi)

Janganlah sesekali kita lupa bahwa hubungan kita dengan Allah SWT adalah hubungan yang paling penting. Hakikatnya, hanya Allah yang mampu memberikan kita kejayaan di dunia ini.