Kuliner Timur Tengah di Palembang

Makanan Muhammad Walidin 15-Agu-2020
Kuliner khas Arab di Kampung Al-Munawar © akurat.co

Sejak berteman dengan seorang keturunan Arab bermarga Syahab, saya rajin bertanya tentang budaya keturunan Arab yang berada di Palembang. Beberapa informasi seperti perkampungan Arab, kuliner, sistem kekerabatan, serta bahasa Arab pergaulan yang masih dipakai dalam bahasa sehari-hari mereka.

Saya ingin sekali merasakan kuliner keturunan Arab yang populer dikonsumsi oleh warga tempatan. Suatu siang, saya mengajak kolega tersebut mengunjungi restoran yang menyediakan nasi minyak; ikon pertama kuliner Arab di Palembang. Atas rekomendasinya, kami segera menuju sebuah restoran yang terletak di Pasar Kuto 8 Ilir Palembang. Tempat ini memang salah satu sentra pemukiman bagi warga Arab keturunan.

Sesuai rekomendasi, kami memesan menu bernama nasi minyak. Nasi ini menjadi khas karena sejak awal nasi dimasak bersama tumisan bawang bombay, bawah merah dan putih, nanas, susu, mentega. Setelah tercampur sempurna, nasi diangkat dan dikukus hingga matang. Campuran bumbu di dalam nasi itulah yang membawa aroma khas dan mengudang selera santap.

Pemilik rumah makan ternyata menyiapkan menu pelengkap yang tak kalah lezatnya. Ada enam piring lauk pauk berisi daging malbi, kari kambing, sate pentol, gulai tunjang, ayam goreng, dan burung puyuh goreng. Ditambah lagi dengan sambal nanas dan acara timun, menjadikan menu nasi minyak ini semakin lezat disantap. Sambil menikmati sajian makan siang, kami menyaksikan warga keturunan yang cantik dan ganteng berlalu lalang di luar restoran.

Jenis kuliner kedua adalah bubur Arab (syurbah). Jenis makanan ini sayangnya tidak selalu tersedia setiap saat. Warga keturunan biasanya membuat bubur Arab untuk menu pada peringatan tiga hari kematian untuk disajikan kepada sanak keluarga yang datang takziah.

Bubur Arab tak ubahnya seperti bubur nasi biasa, hanya kental tanpa kuah. Proses memasak nasinya juga dicampur dengan berbagai bumbu, seperti kayu manis, kapulaga, cengkeh, jinten, dan santan. Tidak lupa juga mencampurya dengan daging kambing. Setelah nasinya mengental dan aromanya wangi, artinya bubur Arab siap disantap.

Walau susah ditemui, menu ini bisa dinikmati sepanjang bulan Ramadan sebagai takjil yang disediakan oleh takmir masjid Suro al-Mahmudiyah. Masjid yang beralamat di Jalan Ki Gede Ing Suro kelurahan 30 Ilir, ini merupakan salah satu masjid tertua di Palembang. Dibangun pada tahun 1889 oleh KH. Abdurrahman Delamat dan sarat dengan nilai sejarah karena berkaitan dengan peran ulama Palembang dalam mengusir penjajah di bumi Palembang Darussalam.

Di sini, bubur Arab telah berganti nama menjadi bubur Suro, sesuai dengan nama masjidnya. Setiap hari sepanjang bulan Ramadan, takmir masjid menyiapkan 100 porsi bubur yang bisa dinikmati saat berbuka puasa di masjid secara bersama-sama. Selain sebagai tradisi masyarakat keturunan, bubur suro diminati karena rasanya yang enak dan aromanya yang mengundang selera.

Di samping kedua menu tersebut, ada sajian khusus yang ditawarkan oleh perkampugan Arab al-Munawar yang berlokasi di 13 Ulu Palembang, yaitu nasi mandi. Nasi mandi menggunakan beras khusus Arab Basmatia yang dicampur dengan bahan lainnya yakni, putik zaprone, jeruk kering, cengkih, kayu manis, gula, garam dan susu cair. Cita rasa yang nikmat tidak lepas dari cara memasak dan bahan yang berkualitas seperti menggunakan daging kambing dan ayam pilihan dengan olesan minyak samin.

Sebagai menu makan siang, nasi mandi akan disantap bersama kari ayam, gulai kambing, salad sayur bumbu kacang, dan sambal setan. Bila kita ingin menikmati menu ini, sebaiknya pesanlah dua hari sebelum ketibaan. Semua menu ini bisa dikonsumsi untuk 10 hingga 30 orang dengan harga kisaran Rp. 800.000 s.d. satu juta rupiah. Dengan makan di perkampugan Arab, menu kuliner Arab, dan musik Arab, kita merasa benar-benar berada di Arab, tetapi dekat dengan sungai Musi.