Kuterima hidayah berkat menguping

dreamstime_s_100518713
Kuterima hidayah berkat menguping © Yudhistirama | Dreamstime.com

Assalamua’alaikum Dunia! Perkenalkan nama Muslimku Dhiya’uddin Tan. Sementara nama Tionghoaku adalah Tan Kiang Shing. Saat ini aku merupakan dosen di salah satu Universitas Islam Negeri di Sumatera Selatan. Sejak duduk di sekolah dasar, hasratku untuk masuk Islam semakin kuat. Salah satu yang membuatku ingin berpindah agama dari protestan ke Islam karena aku suka menguping perdebatan ibu dan kakak tertuaku.

Aku terlahir dari ayah yang beragama Budha dan ibu penganut Kistiani. Sebagai bungsu dari tiga saudara (semua lelaki), aku akrab sekali dengan kakak tertuaku, Jhoni. Kami menghabiskan masa kecil di desa Air Batu, Banyuasin Sumsel. Lingkungan kami yang mayoritas memeluk Islam membuat kami akrab dengan berbagai peribadatan Islam. Kami tak canggung mengucap salam bahkan hafal doa-doa sebelum dan sesudah belajar. Maklum, kami belajar di sebuah sekolah dasar negeri.

Di akhir masa pendidikan dasarku, kami sekeluarga pindah ke Palembang. Kakakku Jhoni masuk SMA swasta Katholik. Nah, sejak kakak bersekolah di sana, ia semakin gelisah dengan keyakinannya. Ia mulai bertanya kepada ibu. Ia sering mendebat pendapat ibu tentang Trinitas. Perdebatan tersebut bagiku sangat menarik.

Di usiaku yang menginjak akil baligh, pertanyaan kakak begitu logis di telingaku. Dalam diam, aku meyakini keraguan kakak tentang Trinitas. Apalagi ia mulai membandingkan Trinitas dengan Tuhan Yang Esa dalam Islam. Diam-diam kakak sudah keranjingan membaca buku-buku Islam untuk memuaskan rasa ingin tahunya tentang Tuhan.

Ingatanku tentang Islampun kembali menguar. Aku memang sudah hafal surat al-fatihah, juga surat al-Asr. Dalam surat al-Fatihah tersebut memang disebutkan bahwa Allah SWT adalah Tuhan satu-satunya yang dipuji, disembah, dan dimintai pertolongan.  Bahkan, sejak kelas 6 SD, aku telah belajar mengaji karena ingin sekali bisa membaca brosur dalam bahasa Arab saat berkunjung ke  rumah teman. Atas sarannya, aku mulai belajar mengaji agar aku bisa membaca aksara Arab. Dengan horizon ke-Islaman yang masih muda ini, akhirnya aku menjadi pendukung argumentasi kakak saat ia berdebat dengan ibu tentang Tuhan.

Akhirnya, kakakku bersyahadat. Akupun berada di belakangnya untuk menyatakan tiada Tuhan selain Allah SWT dan Muhammad SAW itu adalah utusannya. Dengan konversi tersebut, kakakku pindah sekolah ke Pesantren Arriyadh Palembang, dan aku dikirim ke Pesantren Raudatul Ulum Sakatiga oleh ibu angkat kami; bu Muslihah dan bu Nurwati (keduanya guru agama di SMP 40).

Pesantren adalah dunia yang secara tak sadar telah ada dalam fikiranku. Saat belajar mengaji, guru kami sering mengatakan bahwa belajar di pesantren itu sangat nikmat. Teman banyak dan rasa kebersamaan sangat tinggi. Aku tak mengira bahwa ternyata perjalanan hidupku sangat dekat dengan pesantren.

Segala syarat rasanya sudah terpenuhi untuk masuk ke lembaga ini. Aku sudah bisa mengaji dan melakukan sunat. Tetapi, secara legal formal, aku belum memiliki surat syahadat. Akhirnya, aku diantar ke  ulama terkenal Palembang, KH. Zein Syukri untuk bersyahadat kembali dan mendapatkan sertifikat Syahdat. Itu terjadi tahun 1991.

Setelah tiga tahun mengenyam pendidkan di Raudatul Ulum, aku meneruskan pendidikan menengah atas di Pesantren Arriyadh Palembang. Sebab di sana ada kakak tercintaku belajar. Lulus dari sini, aku terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab  IAIN Raden Fatah.

Kini, aku mengabdi di lembaga ini sebagai pengajar. Di sela-sela waktu pengabdian, aku mendedikasikan diri sebagai pelayan umat di Masjid Cheng Ho Sriwijaya Palembang. Melayani umat, terutama para mualaf adalah tujuanku saat ini. Doakan semoga aku istikamah.

Hidup di bawah hidayah itu indah, apalagi menyaksikan semua anggota inti keluargaku menjadi  Muslim. Semoga Allah SWT memberikan Surganya untuk ibu dan ayahku di alam sana. Aamin.

(Diangkat dari kisah nyata, sumber wawancara langsung dengan Bapak Yanto)