Labid bin Robiah r.a, penyair dengan satu bait puisi

Sejarah 27 Jan 2021 Muhammad Walidin
Pilihan oleh Muhammad Walidin
Labid bin Robiah r.a, penyair Muslim dengan satu bait puisi
Labid bin Robiah r.a, penyair Muslim dengan satu bait puisi © Canettistock | Dreamstime.com

Ia bernama asli Abu Uqail Labid bin Ro’biah al-Amiri r.a (Bani Amir) yang lahir tahun 560 Masehi. Ia salah seorang penyair sekaligus pemimpin era Jahiliyah termasyhur.

Ia memiliki sifat-sifat yang mulia, seperti dermawan, bijak cendekia, dan gagah perkasa.

Labid bin Robiah r.a – penyair yang sangat dermawan

Tak heran, ayahnya memang seorang dermamawan sejati sehingga dijuluki  Sang Semi yang Subur. Artinya, ia selalu berderma dan tak ada habisnya. Ibunya dari Kabilah ‘Abs yang memiliki karekter pemberani. Pamannya dari pihak ibu adalah pemain pedang yang piawai.

Berkaitan dengan kedermawanannya, ia pernah bernazar bahwa setiap berhembus angin timur, dia akan mengadakan perjamuan makan. Selama masa Jahiliyah, ia aktif melaksanakan nazarnya.

Namun, saat ia telah masuk Islam dan menetap di Kufah, ia telah menjadi miskin. Sementara nazarnya selalu ingin ia tunaikan. Suatu waktu dalam sebuah forum salat jama’ah, Gubernur Kufah; al-Walid bin Uqbah merasakan hembusan angin timur.

Sontak ia teringat dengan kebiasaan Labid bin Robiah r.a yang selalu membayar nazarnya, padahal ia tahu Labid sudah sangat miskin. Dalam pidatonya tersebut, al-Walid mengajak hadirin untuk membantu Labid melaksanakan nazarnya.

Hadirin sepakat membantu Labid r.a karena mereka sangat menghormati penyair yang sangat dermawan ini. Al-Walid mengutus orang untuk memberikan bantuan sebesar seratus bikrah. Anak perempuan Labid menyampaikan rasa terima kasih atas nama ayahnya dengan puisi yang sangat indah.

Adapun tentang kepemimpinannya yang gagah perkasa dapat dicatat dari peristiwa penyerangan Labid r.a terhadap al-Munzir bin Mais Sama; Raja Hirah. Kerajaan Hirah terletak di pedalaman Irak dan merupakan kerajaan Arab sebelum Islam datang.

Labid r.a ditunjuk sebagai pemimpin yang membawahi seratus pemuda gagah perkasa. Misi mereka berhasil membunuh sang raja dan berhasi melarikan diri dari kejaran tentara Munzir.

Penyair Muslim dengan satu bait puisi

Kepenyairan  Labid bin Robiah r.a sudah terkenal sejak masa Jahiliyah. Sepanjang umurnya 60 tahun sebelum menjadi muslim, ia telah menciptakan ribuan bait puisi. Karyanya menjadi maestro sehingga layak digantung di dinding Kakbah (al-Mu’allaqat).

Dalam satu riwayat, Aisyah r.a (istri Nabi Muhammad SAW) menghafal 1000 bait puisi Labid r.a. Setelah kedatangan Rasul (tetapi belum masuk Islam), Labid juga sudah mengarahkan puisinya kepada kebaikan Islam. Lihat puisi berikut ini:

اَلاَ كُلُّ شَيْئٍ ماَ خَلا الله باَطِلُ * وَكلّ نــَعِيْمٍ لاَ مـَحَالـَةَ زَائِلُ
وكُلُّ أُناسٍ سَوْفَ تَدْخُلُ بَيْنَهُمْ * دَوِيـْهِيَّةٌ تـَصْفَرُّ مِنْها اْلأنامِلُ
وكُلّ امْرِئٍ يـَوْمًا سيَعْلَمُ غَيْبَهُ * إذا كُشِفَتْ عِنْد اْلاِلَهِ الْحَصَائِلُ

“Sesungguhnya segala sesuatu selain Allah akan lenyap, dan setiap nikmat tanpa kecuali akan binasa

Setiap manusia akan didatangi oleh maut yang menguningkan kuku-kuku mereka.

Setiap orang akan mengetahui amalannya ketika telah dibuka oleh Tuhan segala catatannya.”

Mendengar bait-bait syair ini, Rasulullah SAW memuji Labid r.a dengan pujian yang dalam. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Baginda bersabda:

“Sebaik-baik kata yang diucapkan penyair adalah kata-kata Labid.”

Ketika Islam lahir, banyak utusan bangsa Arab dan menghadap Nabi Muhammad SAW untuk masuk Islam. Labid r.a bersama utusan kaumnya dari Bani Ja’far bin Kilab bin Amir datang pada nabi dan menyatakan ke-Islamannya.

Kemudian dia balik ke negerinya, menjadi ahli ibadah, dan hafal Quran hingga wafat pada 661 Masehi/41 Hijriyah di Kufah pada masa kekhalifahan Mu’awiyah. Praktis, selama 40 tahun hidup dalam pelukan Islam, ia hanya menciptakan satu bait saja:

الحمدُ لله ان لـَمْ يَأتـِنِى أَجَلِىْ * حـَتىَّ لـَبِسْتُ مِنَ اْلإسلامِ سِرْبالا

“Segala puji bagi Allah, yang belum mempertemukanku kepada ajalku * sampai aku mengenyam dalam Islam pakaian kedamaian”.