Layla Majnun, kisah cinta abadi dari Timur Tengah

Filsafat 06 Mar 2021 Merry Lestari
Terbaru oleh Merry Lestari
Layla Majnun, kisah cinta abadi dari Timur Tengah
Layla Majnun, kisah cinta abadi dari Timur Tengah © en.wikipedia.org/wiki/Layla_and_Majnun

Majnun adalah julukan yang diberikan kepada Qays ibn al-Mullawah, seorang pemuda tampan serta cerdas yang jatuh cinta kepada seorang gadis bernama Layla bint Mahdi.

Namun kisah cinta mereka harus terpisahkan. Dan ini membuat pemuda yang tengah mabuk atau gila asmara (inilah artinya Majnun dalam konteks cinta Qays kepada Layla) tersebut seakan melupakan segalanya dan hanya memikirkan kekasihnya Layla, seorang saja.

Kisah cinta Layla dan Majnun ini telah melegenda di Timur Tengah, terutama di kalangan masyarakat Arab. Bahkan kisah cinta Romeo dan Juliet yang terkenal tersebut juga digadang-gadang merupakan bentuk lain dari kisah cinta Layla Majnun.

Layla Majnun dalam sebuah novel

Kemasyhuran kisah cinta Layla dan Majnun (Qays) telah menjadi salah satu kisah cinta yang turun-temurun dan melegenda di kalangan masyarakat Arab.

Kisah cinta ini disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut dan generasi ke generasi. Sehingga menjadi sangat terkenal bahkan hingga hampir ke seluruh penjuru dunia.

Ketenarannya semakin bersinar setelah kisah Layla Majnun dibuat dalam sebuah novel oleh seorang sastrawan terkenal dari Persia, Nizami Ganjavi.

Novel Layla Majnun yang ditulis oleh Nizami Ganjavi telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa yang ada di dunia.

Layla Majnun, kisah cinta abadi dari Timur Tengah

Qays adalah seorang putra tunggal dari seorang raja pemimpin kabilah bangsa Arab yang dikenal sebagai seorang pemuda cerdas, arif, serta bijaksana. Sebagaimana ayahnya yang juga sangat taat pada aturan agama.

Hingga suatu hari Qays bertemu dengan Layla, seorang gadis cantik yang ada di sekolahnya. Mereka berdua saling jatuh cinta, dan kerap saling pandang saat jam pelajaran tengah berlangsung, serta mencuri-curi waktu untuk mencurahkan perasaannya masing-masing.

Lambat laun hubungan keduanya terendus sampai ke orang tua Layla, dan membuat sang ayah murka. Dalam tradisi bangsa Arab pada saat itu, perempuan yang memiliki hubungan khusus tanpa ikatan pernikahan dengan laki-laki akan menjadi aib bagi keluarganya.

Karena alasan tersebutlah ayah Layla mengurung putrinya itu di rumah. Ia menjauhkan Layla dari keramaian untuk menghindari rasa malu, dan agar Layla tak lagi dapat bertemu dengan kekasihnya Qays.

Akhir kisah cinta Layla dan Majnun

Berpisah dengan sang kekasih membuat Qays resah bukan kepalang. Ia mulai seperti orang yang kehilangan arah. Setiap malam Qays berjalan menelusuri hutan belantara dan padang gurun hanya untuk mengunjungi kediaman Layla tanpa sepengetahuan sang empunya rumah.

Syair-syair cinta dan sarat akan kerinduan yang mendalam terus mengalir dari bibir Qays untuk Layla. Wajah tampan Qays yang mempesona semakin hari kian memudar, tergantikan dengan wajah lusuh tak terurus dan bagai tak bertuan.

Ia berjalan tanpa alas kaki, dengan pakaian compang-camping. Sehingga membuatnya benar-benar terlihat seperti orang gila. Qays bahkan meninggalkan rumah serta orang tuanya. Ia memilih hidup terlantar di tengah belantara dari pada ia harus hidup mewah tanpa kehadiran Layla.

Kabar pernikahan Layla semakin membuat Qays menggila! Perasaan cintanya yang selama ini ia simpan baik ternyata kini pemiliknya telah dimiliki orang lain. Satu persatu orang-orang terkasih Qays pergi untuk selamanya, menghadap sang Illahi. Mereka terlalu lelah menasihati dan menunggu kepulangan Qays.

Puncak dari segala penderitaan yang harus dialami Qays sejak berpisah dengan kekasihnya tersebut adalah ketika ia menerima kabar bahwa sang pujaan hati telah kembali menghadap Sang Pencipta.

Sejak saat itu Qays tak pernah meninggalkan pusaran sang kekasih. Ia terus menangis sambil memeluk nisan Layla. Hingga pada akhirnya, Qays yang  malang pun meninggal di atas gundukan makam kekasihnya.

Hikmah dari kisah cinta Layla Majnun

Apa hikmah penting yang dapat dipetik dari Kisah Cinta Layla Majnun? Cintailah sesama makhluk dengan sewajarnya, karena pemilik cinta yang sesungguhnya adalah Allah Taala semata.

Karena cinta kepada sesama manusia merupakan benih kehidupan, minimal sebagai semangat hidup bagi seseorang yang akan mendorong usaha untuk meraih sesuatu yang dicintai.

Selain itu, dapat dipahami juga bahwa manusia sebagai subjek cinta, sangat terbatas dalam meraih sesuatu yang dicintai sehingga membutuhkan bantuan Sang Pemilik Cinta yang sesungguhnya, yaitu Allah SWT. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Quran, surah al-Imran, ayat 14 yang berbunyi:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat.”