Pendapat 03-Jun-2020

Lebaran di hari kedelapan

Sanak
Kolumnis
© Maria Marganingsih | Dreamstime.com

Gema takbir, tahlil, dan tahmid menyambut hari raya Idul Fitri telah selesai berkumandang.Pusat perbelanjaan, mall, toko, dan warung telah mulai buka. Pengusaha, karyawan, dan buruh sudah kembali bekerja. Pegawai negeri dan swasta telah sibuk dengan seabrek kegiatan di kantornya. Kehidupan telah berjalan seperti biasa.

Namun di sebagian wilayah Jawa, justru perayaan baru saja akan dimulai. Lebaran ketupat namanya. Seremonial yang diadakan setelah menjalankan puasa enam hari di awal bulan Syawal ini sudah membudaya. Sesuai istilahnya, masyarakat menyiapkan ketupat spesial untuk dinikmati bersama keluarga, kerabat serta tetangga. Tak hanya itu, beberapa daerah seperti Kudus, Trenggalek, dan Gersik mengadakan arak-arakan suka cita di jalanan yang hampir sama dengan malam takbiran. Bagi mereka inilah lebaran sesungguhnya.

Tradisi yang sama juga ada di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara Barat. Seperti halnya yang terjadi di negeri seberang, Kabupaten Kampar. Keluarga kecil di sebuah rumah sederhana tampak sedang sibuk membakar lemang pesanan orang. Selain itu mereka juga memasak makanan khas daerah untuk disantap esok hari.

Indonesia memang terkenal dengan keragaman budaya. Umumnya budaya itu terbentuk dari pemahaman dan pengamalan dalam beragama. Lebaran ketupat adalah salah satu contohnya. Tradisi yang pertama sekali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga ini sangat kental dengan pelaksanaan ibadah umat Islam. Seyogyanya yang merayakan adalah mereka yang berpuasa enam hari di awal bulan Syawal.

Hasil tanya jawab penulis dengan beberapa orang responden, hanya sedikit sekali yang mengerjakan puasa Syawal tepat setelah hari raya idul fitri. Mayoritasnya melaksanakan ibadah sunah ini setelah hari kedelapan atau tidak berurutan. Sebut saja Nofri, ia sudah melazimkan puasa di awal Syawal beberapa tahun terakhir. Tentu tidak sedikit godaan yang dia hadapi ketika melayani tamu ataupun mengunjungi kerabat untuk bersilaturrahmi. Berbeda dengan Fauziah, dia lebih memilih menghabiskan suasana lebaran dengan liburan dan makan-makan kemudian baru puasa Syawalnya dilaksanakan.

Pertanyaan besarnya, pantaskah perayaan Lebaran Ketupat bagi mereka yang tidak mengerjakan puasa Syawal? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab jika masyarakat mengetahui dan mengingat esensi dari tradisi ini. Seseorang yang sudah beramal ibadah puasa Syawal akan tetap diberi ganjaran oleh Allah meskipun ia merayakan ataupun tidak. Berbeda dengan orang yang setiap tahun menjaga tradisi tanpa ibadah yang mengiringi, akankah mendapat pahala? Wallahu a’lam.

Artikel terkait
Pendapat
Pendapat 12-Agu-2020
Bayu RI
Kolumnis

Setiap orang yang menunaikan ibadah haji, selain ingin menjalankan kewajiban rukun Islam, juga berharap agar bisa mendapatkan haji yang mabrur. Karena haji yang mabrur ganjarannya adalah Surga. Upaya untuk menggapai Haji Mabrur harus diawali dengan meluruskan niat, menyiapkan bekal yang baik yang terjaga kehalalannya serta menyiapkan ruhiyah.

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 06-Jul-2020
Muhammad Aslam
Kolumnis

Dalam agama Islam, siwak memang kaya manfaat. Bahkan menurut beberapa penelitian biji siwak bisa diolah menjadi minyak esensial pereda nyeri reumatik. Batang pohonnya juga bisa dimanfaatkan dalam pembuatan lilin aromaterapi dan sabun mandi.

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 01-Jul-2020
Taufiq Sugeng
Kolumnis

Memiliki badan yang sehat tentunya harapan bagi setiap orang. Hal ini dikarenakan kesehatan sangatlah memiliki peran penting bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, menjaga setiap manusia wajib menjaga kesehatannya, baik anak-anak, remaja, atau dewasa. Sama seperti dengan Rasulullah SAW yang selalu menerapkan gaya hidup sehat.

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 25-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Terhadap fenomena ini penulis teringat hadis Nabi Muhammad SAW bahwa persaudaraan muslim itu ibarat satu tubuh, bila satu anggota sakit, maka seluruh badan juga turut merasa sakit. Bila pandemi kita anggap sebagai ujian iman, kita harus melipatgandakan potensi rahmah terhadap sesama yang kita coba bangun selama ini.

Terus Terus