Lima tips mempertahankan ketakwaan

dreamstime_s_6740275
Lima tips mempertahankan ketakwaan © Jeremy Richards | Dreamstime.com

Kesucian dan ketakwaan yang ada dalam jiwa harus senantiasa dipertahankan oleh setiap Muslim. Hal ini disebabkan kesucian dan ketakwaan ini bisa mengalami pelarutan, atau bahkan hilang sama sekali.

Namun, ada beberapa tips yang membuat seorang Muslim bisa mempertahankan nilai ketakwaan dalam jiwanya, bahkan mampu meningkatkan kualitasnya. Tips tersebut adalah sebagai berikut:

Muraqabah

Muraqabah adalah perasaan seorang hamba akan kontrol ilahiah dan kedekatan dirinya kepada Allah SWT. Hal ini  diimplementasikan dengan mentaati seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya, serta memiliki rasa malu dan takut, apabila  menjalankan hidup tidak sesuai dengan syariat-Nya.

“….Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

(Surah al-Hadiid, 57:4)

Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang ihsan: 

“Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya,  sesungguhnya Dia melihat kamu.”

(Hadis riwayat al-Bukhari)

Mu’ahadah

Mu’ahadah adalah kesadaran seorang Muslim akan perjanjian dengan Allah SWT saat memasukan gerbang Islam dengan syahadartain. Kesadaran akan pentingnya mu’ahadah ini akan menjadikan seorang muslim selalu iltizam terhadap nilai-nilai kebenaran Islam dan selalu istikamah di jalan-Nya.

Hal ini dilakukan karena ia telah berafiliasi dengannya dan berikrar di hadapan Allah SWT. Allah berfirman:

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”

(Surah an-Nahl, 16:91)

Muhasabah

Muhasabah adalah usaha seorang hamba untuk melakukan perhitungan dan evaluasi atas perbuatannya,  baik sebelum maupun sesudah melakukannya. Seorang yang sering melakukan muhasabah, evaluasi dan auto kritik terhadap dirinya maka ia selalu tegar dan istikamah di jalan Islam.

“Orang yang cerdas (kuat) adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari kematiannya. Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengekor pada hawa nafsu dan berangan-angan pada Allah.”

(Hadis riwayat Ahmad)

Mu’aqabah

Mu’aqabah adalah pemberian sanksi oleh seseorang Muslim terhadap dirinya sendiri atas  keteledoran yang dilakukannya.

“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.”

(Surah al-Baqarah, 2:179)

Generasi salaf yang soleh telah memberikan teladan yang baik kepada kita. Teladan dalam masalah ketakwaan, muhasabah, mu’aqabah terhadap diri sendiri jika bersalah, serta contoh dalam bertekad untuk lebih taat jika mendapatkan dirinya lalai atas kewajiban.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khathab r.a pergi ke kebunnya. Ketika ia pulang, maka didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan salat Ashar. Maka beliau berkata, “Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah salat Ashar! Kini, aku menjadikan kebunku sedekah untuk orang-orang miskin.”

Mujahadah (Optimalisasi)

Mujahadah adalah optimalisasi dalam beribadah dan mengimplementasikan seluruh nilai-nilai Islam dalam kehidupan.

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya…”

(Surah al-Hajj, 22:78)

“Rasulullah SAW melaksanakan shalat malam hingga kedua tumitnya bengkak.”

(Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Inilah lima langkah yang harus dimiliki oleh seorang Muslim yang ingin mempertahankan nilai keimanan dan yang ingin bertahan di puncak ketakwaannya.