Lisan yang bisa jadi harimaumu untuk orang

Jiwa Umri 08-Sep-2020
dreamstime_s_161692249
Harimaumu! © Pande Putu Hadi Wiguna | Dreamstime.com

Sebuah ungkapan yang banyak benarnya, ‘Mulutmu adalah harimaumu’. Binatang yang sangat buas jika menerkam mangsa, tanpa melihat siapa musuhnya yang penting bisa mengenyangkan perutnya ialah harimau. Begitu juga lisan (mulut) bisa berkata apa saja, tanpa tahu lawan bicaranya tersakiti sebab ucapannya.

Imam Ghazali r.a berkata: “Lisan menyerupai tanah lapang. Ia tidak memiliki batas. Ukurannya tidak ada akhirannya. Untuk kebaikan, ia memiliki lapangan(porsi) yang sangat luas. Dan untuk kejahatan, cakupannya juga sangat lebar.”

Manusia banyak masuk neraka karena lisan mereka. Lisan senjata paling ampuh untuk menimbulkan peperangan dan meyakiti hati orang lain. Maka menjaga lisan merupakan suatu hal yang paling efektif untuk menjalani kehidupan sosial.

Diam menjadi emas, jika tidak bisa berkata yang baik. “Jika kamu beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya berkatalah baik atau diam”. (Hadis riwayat al-Bukhari)

Demikian banyak perintah untuk menjaga lisan dari hal yang buruk, menyakiti orang, mencaci maki orang, ghibah (pengunjing), berbicara yang tidak bermanfaat, melaknat orang lain, berbohong, mencela makanan, dan lain sebagainnya.

Seseorang dengan ucapannya bisa membuat Allah SWT rida kepadanya, namun seseorang yang berkata keji dan munkar bisa saja membuat Allah benci kepadanya. Maka lisan itu hendaklah digunakan untuk perbuatan yang mulia, seperti berzikir, memuji orang, membaca al-Quran, menasehati orang, berkata yang baik, dan semua prilaku yang baik.

Terlebih lagi sekarang zaman teknologi, semua orang dengan mudah bisa berkata-kata. Bukan dengan lisan mereka namun berkata dengan jari-jari mereka. Sejatinya itu sama saja. Unggahan yang terlampir di laman media sosial Facebook, Twitter, Instagram atau lainnya bisa dengan mudah membuat orang lain tersinggung.

Tidak sedikit kasus di Indonesia yang terjerat hukum gara-gara komentar di laman sosial media. “Keselamatan manusia terletak pada kemampuannya menjaga lidah”. (HR al-Bukhari)

Kebanyakan maksiat dan dosa timbul karena kurangnya kemampuan menjaga lisan. Sebab, lisan merupakan salah satu organ yang tidak bisa kenyang dan bosan. Orang yang hobinya ngomong biasanya orang yang paling banyak salah.

Satu lagi, sebenarnya organ yang sering salah adalah penglihatan. Sama hal dengan lisan, penglihatan tidak pernah kenyang dan bosan. Untuk itu haruslah menjaga diri dari omongan dan pandangan yang salah.

Terdapat bermacam jenis perkataan dalam al-Quran, seperti: Qaulan ma’rufa (perkataan yang baik), Qaulan Sadida (perkataan yang tegas dan benar), Qaulan layyana (perkataan yang lemah lembut), Qaulan maisura (perkataan yang mudah), Qaulan (perkataan yang mulia), Qaulan karima (perkataan yang mulia). Perkataan-perkataan ini adalah perkataan yang baik dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Demikianlah untuk menjaga mulut lebih bijak dalam berkata-kata, tidak menyakiti orang, sebab jika lidah sudah terucap akan sulit untuk menariknya lagi. Perkataan yang baik jauh lebih dicintai Allah SWT daripada sedekah yang diikuti dengan hinaan.