Madu Sialang adalah dari lebah pohon hutan

Nikmati Muhammad Walidin 12-Sep-2020
dreamstime_s_117417609
Keberadaan madu Sialang © Airubon | Dreamstime.com

Saat pandemi virus corona berlangsung, banyak produk-produk yang mengedapan sebagai peningkat imunitas tubuh, di antaranya adalah tumbuhan herbal dan madu. Beberapa herbal yang direkomendasikan  adalah pegagan, temulawak, bawang putih, meniran, temu mangga, jahe merah, daun kelor, kunyit, cengkeh, dll. (health.compas.com). Sementara madu murni menjadi minuman yang menyegarkan di samping juga mampu meningkatkan kekebalan tubuh dari serangan berbagai virus.

Madu memiliki rasa yang manis dan enak dicecap. Di samping itu, ia kaya akan antioksidan, flavanoid, dan palifenol. Di dalamnya juga terdapat nutrisi yang baik untuk tubuh, seperti glukosa, karbohidrat, vitamin C dan B, asam amino, kalium dan zinc. Kandungan inilah yang membuat madu memiliki khasiat sehingga dijadikan obat bagi tubuh manusia.

Ada beberapa cara dalam mendapatkan madu. Pertama dengan cara ternak, kedua dengan cara mencari di hutan. Liputan madu hasil ternak sudah banyak dilakukan, namun madu asli dari hutan yang dikenal dengan nama Madu Sialang cukup asing di telinga kita.

Pertama kali mendengar frasa Madu Sialang, penulis merasa cukup ambigu. Apakah Sialang itu nama lebah atau nama pohon? Karena pernah juga penulis mendengar frasa pohon Sialang. Dari berbagai referensi yang dikumpulkan akhirnya penulis menemukan kejelasan.

Menurut KBBI, Sialang adalah ‘Sarang lebah di hutan’. Jadi, bila terdengar frasa Madu Sialang, maka yang dimaksud adalah madu yang diambil dari sarang lebah di dalam hutan. Bila mendengar frasa  pohon Sialang, maka yang dimaksud adalah semua pohon tinggi besar tempat hunian lebah yang hidup dalam puluhan sarang atau koloni.

Para lebah akan mencari pohon-pohon yang tingginya bisa mencapai 50 meter dengan garis tengah batang sebesar 2 meter atau lebih. Pohon-pohon ini biasanya memiliki daun kecil-kecil agar tidak gampang roboh bila terjadi angin kencang.

Jenis pohon yang disukai lebah untuk bersarang adalah Ara, Kruing, Balau (Shorea), Kedundung, Batu, Meggeris (Kompassia Excelsa), Kempas (Koompassia Parvifalian), Terap (Artocarpus Maingayi), Benuang (Octomeles Sumatrana), Cempedak Air (Artocarpus Integer).

Pohon-pohon ini merupakan pohon yang kuat. Satu dahan saja bisa menampung 20 sarang lebah. Terkadang, satu pohon yang terdiri dari 5-10 dahan bisa ditemukan 100 hingga 200 sarang lebah. Berarti dalam satu pohon, tersimpan lebih kurang 1 ton madu yang bisa dikonsumsi.

Di Sumatera, daerah yang terkenal dengan produksi madu Sialang adalah Dawas dan Tungkal Ulu Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan, Desa Suo-Suo kecamatan Sumay Kabupaten Tebo Jambi, dan Kecamatan Ukui Kabupaten Palalawan Riau. Keberadaan pohon-pohon Sialang di daerah ini dilindungi oleh adat.

Bila telah ada pohon Sialang, maka masyarakat tidak boleh membuat ladang dalam radius satu kolometer dari pohon itu. Pohon Sialang adalah investasi jangka panjang dan dapat diwariskan. Betapa tidak, bila dalam satu pohon terdapat 200 sarang dan menghasilkan madu sekitar 1 ton, maka duit yang dihasilkan adalah Rp.85.000 x 1000 kg = Rp.85.000.000 dalam sekali panen. Sementara masa panen terkadang bisa sampai empat kali dalam setahun.

Lebah penghasil madu adalah makhluk istimewa yang disebut di dalam al-Quran. Di sana terdapat surat an-Nahl yang berarti ‘Lebah’. Pada ayat 68-69 disebutkan: “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia.

Kemudian makanlah dari segala macam buah-buahan, lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan bagimu. Dari perut lebah itulah dikeluarkan minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya. Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.”

Dengan berkurangnya luas hutan yang masif seperti saat ini, keberadaan madu Sialang mengalami masa-masa kritis. Para lebah tidak lagi menemukan makanan di sekitar pohon Sialang karena deforestasi. Saatnya pemerintah memikirkan hutan untuk madu Sialang sebagai aset rakyat sekaligus aset kesehatan bangsa.