Mahmud Darwish – penyair nasional Palestina

Dunia Muhammad Walidin 22-Agu-2020
Mahmud Darwish © mypoeticside.com

Mahmud Darwish dilahirkan pada tahun 1942  di desa Birweh, Palestina. Meninggal  tahun  2008 di Houston, Texas, Amerika Serikat, dan dimakamkan di Ramallah, Palestina. Mahmud Darwish, secara luas dapat disimbolkan sebagai tokoh perlawanan Arab terhadap Israel. Ia disebut pribadi  yang unik. Misal, ia sangat  membenci Israel,  tapi tidak membenci Yahudi.

Ia tercatat sebagai anggota PLO tahun 1987, namun ia juga pernah bekerja sebagai editor majalah milik Partai Rakha Israel, tahun 1962. Ia menguasai bahasa Inggris, Francis, dan juga Hebrew. Namun demikian, ia tetap menulis dalam bahasa Arab, terutama puisi yang terkumpul dalam 23 kumpulan puisi dan 11 kumpulan prosa.

Walaupun  kebencian  Darwish  terhadap Israel sangat  tampak,  namun  sebagai  warga Arab Palestina, ia tetap menganggap dirinya sebagai bagian dari peradaban Yahudi yang hidup dan berkembang di Palestina.

Betapa tidak, pada usianya yang baru mencapai 6 tahun di tahun 1947,  ia menyaksikan kampungnya dicaplok oleh Israel. saat terjadi perang tahun 1948 dan peristiwa an-Nakbah. keluarganya mengungsi ke Lebanon. Pasca perang, ia kembali lagi secara diam diam ke kampungnya yang telah berubah menjadi pemukiman Yahudi.

Ia menjadi pengungsi ilegal di kampungnya sendiri. Sebuah gagasan puisinya semaca bocah, “Engkau bisa bermain di bawah matahari sesukamu, dan engkau punya mainan, tapi aku tidak. Engkau punya rumah, dan aku tidak. Engkau merayakan, tapi aku tidak. Mengapa kita tidak bisa bermain bersama?” menjadi titik tolak kepuisiannya sekaligus ancaman bagi dirinya dan juga Israel.

Walaupun karyanya menjadi ancaman bagi Israel, ia tetap bermimpi suatu saat terjadi rekonsiliasi antar Arab dan Yahudi. Menurutnya, bila ini terjadi, pemeluk Yahudi tidak akan malu mendapatkan bahwa ada rasa Arab di dalam dirinya, dan orang Arab tidak akan malu mengakui bahwa di dalam dirinya terdapat elemen- elemen Yahudi.

Dalam salah satu pernyataannya ia menyatakan bahwa ia masih menunggu dengan sabar akan datangnya revolusi yang besar dalam kesadaran bangsa Israel. Untuk itu, bangsa Arab siap menerima bangsa Israel dengan tangan yang hangat. Semuanya dibutuhkan untuk membuka   pintu perdamaian. Walaupun perdamaian belum tercapai saat ia meninggal pada tahun 2008, ia selalu menyatakan kesan optimis bahwa perdamaian suatu saat nanti akan dapat dicapai.

Para pencinta kedamaian bisa menemukan desah nafas derita perang dan hasrat akan perdamaian dalam antologi puisinya, di antaranya adalah Asafir bila Ajnihah (1960), Auraq Zaitun (1964), Asyiq min Falestine (1966), Yaumiyat Jarh Falestiny (1969), Kitabah Ala Dlau’i Bunduqiyah (1970), Habibaty Tanhadlu min Naumiha (1970), Fi Akhir al-Laili (1970), Diwan Mahmud Darwish (1970), Mathar Na’im fi Kharif Ba’id (1971), Uhibbuka Au La Uhibbuka (1972), Jundy Yahlamu bi al-Zanabiq al-Baidla (1973, dan Ahad ‘Asyara Kaukaba (1993).