Mahmud Sami al-Barudi, penjaga tradisi sastra Arab di era modern

Timur Tengah 03 Des 2020 Muhammad Walidin
Muhammad Walidin
sis.gov.eg-Mahmud Sami al-Barudi
Mahmud Sami al-Barudi, penjaga tradisi sastra Arab di era modern © sis.gov.eg

Sastrawan kita satu ini menyambut era kebangkitan sastra Arab dengan reaksi yang kompromis. Di saat Napoleon Bonaparte datang ke Mesir tahun 1798 dengan para budayawannya, beliau mengakui bahwa sastra Arab memang telah lama absen dari kreatifitas.

Sastra Arab harus dibangunkan dengan identitasnya yang asli dan tidak tunduk pada aturan puisi Barat. Beliau menyambut baik ide kebaruan dalam isi, tapi tetap mempertahankan bentuk kanon puisi Arab yang telah bertahan selama berabad-abad.

Mahmud Sami al-Barudi, penjaga tradisi sastra Arab di era modern

Mahmud Sami Pasha bin Hasan Husni Bek al-Barudi, lahir 6 oktober 1839 di kawasan Bakhirah, Itay al-Barudi,  Kairo, Mesir. Ayahnya dari berdarah Mesir-Turki dan ibunya berasal dari Yunani yang berpindah keyakinan menjadi muslimah.

Menjadi yatim sejak usia tujuh tahun, tidak membuat Mahmud  kehilangan semangat berjuang. Ia tetaplah sosok yang memiliki keinginan dan energi yang besar dan tertarik dengan berbagai hal.  Ia sekolah seni militer atas naungan kerabatnya; Jarkasyi.

Karirnya di bidang politik dan birokrasi sampai pada Menteri Pertahanan, Menteri Perwakafan, dan Perdana Menteri  kelima Mesir (Februari –Mei 1882). Dalam bidang sastra, karirnya malah lebih hebat lagi. Ia dijuluki Rab as-Saif wa al-Qalam (pemimpin pedang dan pena), Amir as-Syu’ara’ (Penghulu para Penyair), dan Sya’ir al-Umara’ (Penyair Para Birokrat).

Mahmud al-Barudi belajar puisi secara autodidak (belajar sendiri). Bakat sastranya terlihat sejak dari kecil. Ia mempelajari puisi klasik abad ketiga dan keempat hijriyah dan terinspirasi karenanya. Tak heran puisinya berakar sangat indah pada khazanah puisi klasik ini.

Kekagumannya terhadap puisi klasik inilah yang menjadikannya pelopor aliran Neoklasik (al-Muhafizun) dalam kesusastraan Arab modern.  Ia terbuki bisa mempertahankan identitas puisi Arab klasik.  Ia juga dinilai berhasil menggubah bahasa puitika dalam syair-syair Arab dari lemah menjadi kuat.

Kembalinya style puisi Mahmud al-Barudi kepada style zaman keemasan Umayyah dan Abbasiyah bukan hanya taqlid buta. Ia ingin penyair modern percaya diri dengan karya-karya terbaru dan bisa menandingi penyair masa lampau, semisal al-Mutanabby, al-Buhtury, dll.

Membangkitkan nasionalisme Arab di tengah aliran budaya Barat

Dengan usaha ini, para penyair diharapkan dapat merefleksikan diri untuk bangkit setelah sekian lama berada pada masa stagnasi. Lebih daripada itu semua, Mahmud al-Barudi sebenarnya ingin membangkitkan nasionalisme Arab di tengah aliran budaya Barat yang mulai masuk ke wilayah Arab.

Memang benar sebagaimana diakuinya bahwa puisi-puisi Barat memiliki kehebatan karena penuh nilai daripada puisi Arab yang terkesan kering. Gerakan Neoklasik yang dipelopori al-Barudi inilah yang menggebrak stagnasi itu.

Para penyair mulai memasukkan inovasi tema yang dianggap baru seperti tema sosial dan patriotisme. Sebagian lagi menggunakan diksi-diksi baru sesuai realitas yang ada. Selain itu, beberapa menghapus zikriyat ala al-Atlal (elegi untuk reruntuhan) di awal puisi sehingga membentuk kesatuan puisi yang tematik.

Namun, para penyair Arab masih terpukau akan tingginya tradisi klasik dalam bersyair. Bahkan beberapa penyair mencoba menandingi puisi-puisi popular Arab klasik dengan meniru tema, metrik dan rimanya. Sebuah kombinasi usaha yang luar biasa!

Seluruh puisi Mahmud al-Barudi terkumpul dalam dua antologi puisi (Diwan al-Barudi) yang diterbitkan dalam dua jilid. Bahasanya yang ringan berstyle puisi klasik tidak menghambatnya untuk memasukkan unsur kebaruan dalam sastra Arab era kebangkitan.

Ketika bangsa mengadakan pemberontakan, al-Barudi ditangkap dan dibuang ke Srilanka selama 17 tahun. Sayang, ia terserang penyakit hingga menyebabkan ia menjadi buta. Setelah bebas, ia kembali ke Mesir dan meninggal di Kairo, 12 Desember 1904.