Makna syahadat dalam kehidupan Muslim

Islam Tholhah Nuhin
dreamstime_s_95119282
Makna syahadat dalam kehidupan Muslim © Leo Lintang | Dreamstime.com

 Kalimat Syahadat merupakan persaratan memasukan pintu gerbang Islam. Dan juga merupakan bukti keislaman sesorang, meskipun belum bisa melakukan nilai-nilai Islam secara komprehensif. Apakah makna syahadat dalam kehidupan Muslim?

Oleh karenanya kita harus memahami dengan baik makna kalimat ‘Syahadat’ itu sendiri.

Makna syahadat dalam kehidupan Muslim

Jawaban dari pertanyaan ini akan memberikan tashuwur (gambaran) yang jelas bagi setiap mukmin di saat pertama kali ia mengucapkan kalimat ini. Sehingga ia mengerti apa yang seharusnya dilakukan sebagai konsekwensi ucapannya.

Ia memahami bagaimana menjadi mukmin yang haqqon (sejati) dengan panji kalimat di atas. Adapun syahadat secara etimologi memiliki beberapa pengertian di bawah ini.

1. Ikrar

Pengertian ikrar bisa kita temukan dalam firman Allah SWT seperti di bawah:

 “Allah menyatakan (mengikrarkan) bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)…”

(Surah al-i Imran, 3:18)

2. Sumpah

Pengertian sumpah bisa kita lihat dalam beberapa firman Allah SWT berikut ini:

 “Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la`nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta.”

(Surah an-Nur, 24:7-8)

3. Perjanjian

Pengertian perjanjian bisa kita temukan dalam ayat-ayat quraniah di bawah ini:

“ Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian (perjanjian) terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”

(Surah al-A’raaf, 7: 172)

4. Persaksian

Dan adapun pengertian persaksiaan untuk kalimat syahadat maka bisa kita temukan dalam beberapa firman Allah SWT:

“…Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.”

(Surah al-i Imran, 3:81)

Syahadat bukan sekedar simbol mati, jargon kosong

Menurut beberapa pengertian di atas, syahadat bukanlah sekedar simbol-simbol mati yang tidak bisa melahirkan perubahan-perubahan besar dalam diri seorang mukmin.

Bukanlah sekedar jargon-jargon kosong yang tidak mencerminkan arti syahadat itu sendiri, akan tetapi makna syahadat adalah berikrar dengan sepenuh hati, bersumpah dengan memahami arti yang terkandung di dalamnya, bersaksi akan kebenaran syahadat dan berjanji untuk mengaplikasikan nilai-nilai yang termuat dalam panji kalimat ini.

Dan seorang mukmin harus berikrar untuk selalu mentaati kepada Allah dan Rasul-Nya, memberikan wala’ (loyalitas) hanya kepada-Nya. Karena Dialah Tuhan yang harus diabdi, dicintai, ditakuti dan hanya kepada-Nya kita memohon dan berserah diri.

Inilah yang disebut dengan iman yang sebenarnya. Iman yang tidak hanya diucapkan lisan saja, namun dibenarkan oleh sang hati dan jiwa. Tidak hanya sampai di sini, tapi juga harus dibuktikan dengan amal perbuatan. Perhatikan sabda Rasul SAW: 

“Iman itu bukanlah hiasan dan khayalan belaka, akan tetapi iman harus dibuktikan dengan amal.”

(Hadis riwayat Ad-Dailamy)