Manisnya madu dunia

Kehidupan Komiruddin 18-Nov-2020
dreamstime_xs_181650676
Manisnya madu dunia © Hanciong | Dreamstime.com

Sejenak kita termenung. Saat membaca deretan kata kata, yang mengungkap tabir. Betapa tarikan tarikan dunia kadang melupakan status dan posisi. Sulit dipercaya bahwa mereka yang menyaksikan turunnya wahyu, mereka yang berkorban harta, malah meninggalkan tanah air.

Juga sanak saudara di bawah bayang bayang kematian, mereka yang menyiapkan dada yang lapang, membagi segalanya untuk saudara mereka yang hijrah, sulit dipercaya bahwa saat saat ghanimah (harta yang diperoleh melalui sebuah peperangan atau disita dari musuh) di depan mata, mereka bertengkar dan berselisih faham.

Luruskan orientasi hidup dengan takwa dan memperbaiki hati

Bahkan dalam perang Uhud, mereka berani meninggalkan benteng yang sudah dipesankan untuk tidak ditinggalkan apapun kondisinya saat perang belum lagi usai karena tergoda dengan ghanimah yang ditinggalkan musuh dan berserakan di depan mata. Padahal mereka adalah umat terbaik yang dididik langsung oleh Rasulullah SAW.

Tapi itulah realitasnya. Mereka juga manusia dan tetap dalam kemanusiaannya. Hingga Allah SWT menurunkan surat al-Anfal untuk meluruskan kembali orientasi hidup dengan takwa dan memperbaiki hati. Dan merekapun tersadar, lalu kembali ke jalan yang lurus..

“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.”

(Surah al-Anfal, ayat 1)

Dan ini menjadi pelajaran berharga bagi setiap gerakan yang sudah mulai merambah masuk di lembaga-lembaga formal.

Benteng dari semua jebakan dunia

Akan ada ghanimah-ghanimah yang dijajakan, bahkan menyambangi mengetuk setiap pintu, sampai ke pintu dapur. Akan berseliweran gepokan dolar, proyek-proyek sebagai kompensasi agar kita menanggalkan jati diri dan melucuti kehormatan.

Dan ini yang paling ditakuti Rasulullah SAW terhadap umatnya. Dibukakannya pintu-pintu dunia dan dihamparkannya berbagai fasilitas hidup sehingga bisa diraih dengan mudah.

“Sesungguhnya di antara perkara yang aku khawatirkan atas kalian setelahku adalah dibukakan kepadamu kesenangan dunia dan perhiasannya.”

(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Di sinilah seorang mukmin diuji. Akankah kita tenggelam di lautan madu lalu mati karena manisnya? Mati hati dan rasa. Atau kita melawan, dan tak hendak terpasung oleh manisnya?

Hanya iman, takwa, lurusnya niat dan bersihnya hati yang akan menjadi benteng dan tameng dari semua jebakan-jebakan dunia.