Manusia dan larangan

Kehidupan Komiruddin 30-Agu-2020
dreamstime_s_145661069
Kita dan larangan © Mukhamad Makmur | Dreamstime.com

Anda pasti pernah melihat poster atau spanduk bertulisan ‘Jangan Tengok Ke Kiri’ atau ‘Jangan Tengok Ke Kanan’. Apa sikap anda ketika melihat tulisan itu? Apakah anda langsung melengos ke kanan atau mala penasaran dan ingin tahu? Pasti anda tetap menengok walau sudah ada larangan.

Sebab Allah SWT menciptakan manusia selalu ingin tahu terhadap hal hal baru yang belum ia ketahui. Maka ketika kita melarang tanpa memberikan alasan yang obyektif,  akan membuat orang penasaran dan ingin tahu. Pada gilirannya ia akan melanggar baik terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.

Lihatlah ketika Allah SWT melarang Nabi Adam a.s memakan buah khuldi,  apa yang terjadi. Nabi Adampun tergoda. Dan Allah berfirman: “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di Surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.”

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya  dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak  orang-orang yang kekal (dalam surga).” (Surah al-A’raf, 7:19-20)

Saya ingin mengatakan, bahwa perintah yang tidak disertakan alasan berpotensi untuk dilanggar. Kisah Nabi Musa a.s dengan seorang saleh yang diceritakan Allah SWT dalam surat Al-Kahfi adalah bukti yang jelas. Adalah menjadi kesepakatan,  bahwa Musa a.s tidak mengajukan pertanyaan sehingga diberitahu.

Tapi Nabi Musa a.s melanggar kesepakatan itu. Dia selalu bertanya akan tindakan orang saleh tersebut. Di mana orang saleh tersebut  melakukan sesuatu yang menurut Nabi Musa as tak masuk akal dan tak dapat diterima nalar. Dan itu manusiawi.

Al-Quran menceritakan tentang orang-orang kafir Quraisy yang melarang teman-temannya untuk mendengarkan al-Quran. Tapi larangan tersebut membuat penasaran sebagian mereka,  sehingga secara diam-diam mereka mencuri dengar.

Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini. Dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya  dapat mengalahkan mereka.” (Surah Fussilat, 41:26)

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ‘Abdah As-Suwaiy ia berkata: Beberapa orang membuat keributan di dekat Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beberapa sahabat berkata: “Ya Rasulullah, andai engkau mengutus kepada mereka beberapa orang untuk melarang mereka dari keributan ini?”

Maka Baginda bersabda: “Andai aku mengutus kepada mereka, kemudian aku melarang mereka untuk mendatangi gunung Al-Hajuun maka sebagian mereka pasti akan mendatanginya sekalipun mereka tidak ada keperluan untuk ke sana.”

Imam Ibnu Hajar al-Haitsami di dalam Majma’ Az-Zawaid wa Manbaul Fawaid mengatakan bahwa perawi hadis di atas adalah sahih.

Pada dekade 60-an, buku ‘Ma’alim Fi Thariq’ karya ustadz Sayyid Quthb Rahimahullah – dilarang beredar. Apa yang terjadi? Orang penasaran dan ingin tahu apa isinya.  Lalu buku tersebut laku keras di pasar ‘Gelap’. Sama hal dengan kitab beliau, ‘Fi Zhilalil Quran’ dilarang beredar di salah satu negeri Arab. Di saat yang sama banyak orang mencarinya.

Jadi,  ketika kita melarang sesuatu hendaknya kita memberikan alasan yang masuk akal dan dapat diterima. Jangan sekali-kali melarang tanpa alasan yang jelas dan hanya mengandalkan otoritas. Sebab hanya akan membuat penasaran dan mendorong seseorang ingin tahu dan pada gilirannya orang-orang akan melanggar larangan tersebut baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.