Masalah dan amal salat yang dikurnia Allah SWT

Agama Umri 04-Sep-2020
dreamstime_s_46179785
Salat dan ketenangan © Arne9001 | Dreamstime.com

Hidup sedang berlangsung, maka cobaan hidup tidak akan berhenti sampai datangnya kematian. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym pernah bertutur dalam ceramahnya: “Bahwa hidup adalah perpindahan satu masalah ke masalah yang lainnya.” Bukan masalah yang besar, namun cara menyelesaikan masalah yang harus dipahami oleh setiap Muslim.

Kata-kata bijak sempat viral di laman Facebook: “Jangan katakan aku punya masalah besar! Namun katakanlah aku punya Allah yang Maha Besar.” Saya tidak menemukan referensi pemilik kalimat ini. Namun tingkat positif yang dihasilkan oleh kalimat ini membuat banyak orang tertegun. Betapa tidak, ada jutaan masalah dalam setiap orang yang belum selesai.

Selesai masalah satu malah muncul yang berikutnya. Mulai dari penyakit yang belum sembuh, kesempitan ekonomi, keluarga, pekerjaan, ini dan itu. Atau juga impian atau keinginan yang belum tercapai, ingin sekolah tidak punya biaya, ingin menikah, ingin punya anak, ingin punya rumah, ingin punya usaha, ingin usaha laku, ingin ini dan itu yang membuat banyak orang sibuk mengejar impian mereka.

Al-Qur’an menawarkan penyelesaian kegundahan untuk menghadapi masalah dan keinginan, yaitu salat. Rukun Islam yang kedua ini sering dianggap remeh oleh sebagian orang padahal efek bagi orang yang melaksanakan salat itu hebat sekali. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) Salat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Surah al-Baqarah, ayat 153)

Salat adalah tawaran solusi bagi orang yang beriman, sementara mereka yang belum beriman tidak dipanggil dalam ayat ini.  Pentingnya melakukan salat tidak boleh dipandang sepele. Salat adalah ibadah yang pertama dihisab pada hari pembalasan.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba di hari kiamat adalah salatnya. Maka, jika salatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika salatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi.” (Hadis riwayat at-Tirmidzi, 413 dan An-Nasa’i, 466)

Apakah cukup dengan salat? Tentu bukan. Namun, awali dengan memperbaiki salat. Setidaknya, salat akan menghantarkan seorang kepada Allah SWT. Membuat hati menjadi tenang, pikiran menjadi positif, dan harapan yang selalu ada. “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram disebabkan karena Dzikrullah. Sungguh, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram.” (Ar-Ra’du, 28)

Ketika seorang menyadari bahwa Allah SWT adalah penguasa tunggal, pengatur alam raya dan dalam genggaman-Nya adalah segala sesuatu. Pastilah akan melahirkan ketenangan  dan ketentraman dalam jiwanya. Jadi jelaslah bahwa salat akan menghantarkan seorang kepada ketenangan.