Masjid Agung Paris – menyebarkan agama secara harmonis sejak dulu kala

Masjid Asna Marsono
Asna Marsono
Masjid Agung Paris - menyebarkan agama secara harmonis sejak dulu kala
Masjid Agung Paris - menyebarkan agama secara harmonis sejak dulu kala © Max5128 | Dreamstime.com

Ketika kita membayangkan musim semi di Paris, yang terlintas di benak adalah keindahan cuacanya dan semerbak bunga. Bunga-bunga berwarna-warni yang bermekaran menutupi pepohonan di seluruh kota.

Dalam latar belakang berwarna-warni ini, permata tersembunyi Paris menjadi lebih menarik. Salah satu permata tersembunyi yang menarik di Paris adalah Grande Mosquee de Paris. Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Agung Paris.

Sejarah Masjid Agung Paris

Terletak di 5th arrondissement (distrik administratif kota), masjid ini juga merupakan salah satu masjid terbesar dan tertua di Prancis. Masjid ini memiliki ruang salat, taman, perpustakaan, dan kafe. Selama bertahun-tahun, masjid ini telah berperan dalam mempromosikan visibilitas Islam di Prancis.

Pada tahun 1856, dekrit prasetoral Prancis memungkinkan Kedutaan Besar Ottoman untuk membangun tempat khusus untuk penguburan orang-orang Muslim. Tempat ini bernama Pere Lachaise. Tempat itu sekitar 800 meter persegi. Di sana, Turki Ottoman membangun struktur sederhana dan mulai menyebutnya Masjid. Dengan demikian, ini adalah masjid pertama yang dibangun di tanah Paris.

Pada tahun 1883, bangunan ini mulai bobrok, sehingga pemerintah Turki memutuskan untuk merekonstruksinya. Selain itu, perluasan masjid juga direncanakan. Pada tahun 1914 desain yang lebih Islami dengan kubah dan menara diusulkan.

Akhirnya, Masjid Agung dibangun berdekatan dengan Jardin des Plantes. Batu pertama diletakkan pada tahun 1922. Kemudian pekerjaan diselesaikan oleh Robert Fournez dan Charles Heubes. Rencana itu diberikan oleh Maurice Tranchant de Lunel. Masjid ini dibangun dalam struktur Moor. Selain itu, ketinggian menara adalah 33 meter.

Kemudian Masjid Agung Paris diresmikan pada tanggal 16 Juli 1926. Presiden Prancis, Gaston Doumergue dan Sultan Yusef dari Maroko hadir pada kesempatan itu. Sufi Syekh Ahmad al-Alawi berdoa untuk pertama kalinya di masjid yang baru dibangun.

Arsitektur masjid dan pengaruh dalam masyarakat

Grande Mosquee de Paris terinspirasi oleh Masjid El-Qaraouyyin, Maroko. Dan menara panjang sepanjang 33 m terinspirasi oleh Masjid Al-Zaytuna di Tunisia. Pintu masuk terbuat dari kayu Oak yang besar bergaya dengan motif kaligrafi flora Islami.

Masjid Agung Paris mencakup area seluas 7.500 meter persegi, dan terdiri dari:

  • Ruang doa yang dekorasinya terinspirasi oleh sejarah dunia Muslim
  • Madrasah atau Seminari
  • Pustaka
  • Ruang konferensi
  • Taman seluas 3.500 meter persegi
  • Restoran, kafe, hammam (pemandian), dan toko

Masjid ini dapat menampung hingga 1000 orang. Masjid ini punya tempat cukup luas untuk wanita dan menyediakan akses ke orang-orang disabilitas juga.

Grande Mosquee de Paris ini memainkan peran penting dalam struktur masyarakat Prancis. Masjid ini mempromosikan pentingnya minoritas muslim di negri Perancis. Apalagi masjid ini juga membantu untuk memberitakan agama Islam yang damai.

Tujuan utama Masjid Agung Paris adalah mempertahankan hubungan masyarakat yang positif untuk menghilangkan stereotip Islam umum yang ada di Prancis, dan kita harus mengatakan, itu berhasil.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.