Masjid Cheng Ho di Palembang

Masjid Muhammad Cheng Ho Sriwijaya, Palembang © Akbar Solo | Dreamstime.com

Dewasa ini, pembangunan Masjid Cheng Ho di Indonesia telah mencapai 21 masjid (2020). Pembangunan Masjid Cheng Ho ini diyakini akan terus bertambah seiring dengan kebutuhan masyarakat Muslim keturunan Tionghoa untuk berakulturasi dalam bingkai ukhuwah Islamiyah dan persatuan Indonesia.

Masjid Cheng Ho yang dibangun pertama kali di Indonesia terletak  di Surabaya yang diresmikan pada bulan Oktober 2002. Pembangunan ini diprakarsai oleh sesepuh dan pengurus PITI (Pembina Iman Tauhid Islam) dan tokoh masyarakat Tionghoa Jawa Timur.

Sejak saat itu, gerak pembangunan Masjid Cheng Ho dimulai, seperti di Malang, Pandaan, Pasuruan, Banyuwangi, Purbalingga, Semarang,  Jambi, hingga Palembang.  Sementara di timur Indonesia, Masjid Cheng Ho hadir di Kalimantan dan Sulawesi.

Penggunaan nama Cheng Ho sebagai masjid keturunan Tionghoa Muslim erat kaitannya dengan sosok laksamana asal dinasti Ming (1368-1644). Cheng Ho (1371-1433) adalah penjelajah Muslim yang telah melalang buana ke sekitar 30 negara di Asia dan Afrika dengan membawa misi dagang dan penyebaran agama.

Dia mengikutsertakan ribuan awak dan puluhan kapal dalam pelayarannya. Dalam ekspedisi Nusantara antara tahun 1405-1433, Cheng Ho pernah singgah selama tujuh kali, dari mulai Kerajaan Samudra Pasai, Cirebon, hingga Majapahit.

Di Palembang, masjid yang bernama lengkap Masjid al-Islam Muhammad Cheng Ho Sriwijaya ini mulai dibangun pada tahun 2001 dan diresmikan pada tahun 2006. Masjid yang terletak di Kecamatan Jakabaring ini memiliki beberapa keistimewaan. Dari segi arsitektur, masjid ini memadukan arsitektur Tiongkok, Palembang, dan Arab.

Tiang pancang dan atap sangat mirip sekali dengan bangunan kelenteng. Ditambah lagi dengan dominasi warna merah pada banyak ornamen membuat masjid ini kental sekali dengan pengaruh Tiongkok. Arsitektur Palembang dikenali dari ujung atap menara luar serupa tanduk kambing, sedangkan kubah dan ornamen kaligafi menjadi ciri khas arsitektur Arab.

Di samping arsitekturnya yang khas, masjid ini memiliki kegiatan istimewa lainnya yang tidak dimiliki masjid lainnya, seperti prosesi syahadat, bina mualaf, rumah tahfiz, penyewaan baju tradisional Cina, dan layanan post-wedding.

Sejak diresmikan tahun 2006, tak kurang telah ada sekitar 200 orang mualaf yang mengumumkan ke-Islamannya di masjid ini. Para mualaf ini memang terbanyak dari etnis Tionghoa. Namun ada juga dari beberapa etnis lain, seperti Batak, Jawa, dll.  Biasanya,  prosesi syahadat ini dilakukan selepas salat Jumat. Ada rasa haru ketika sang mualaf bersyahadat dan mendapati seluruh jamaah salat tersebut adalah menjadi saudaranya seiman.

Setelah prosesi syahadat, masjid ini aktif membina para mualaf dalam program Bina Mualaf. Para mualaf dianjurkan untuk menghadiri masjelis taklim, baik fiqih ibadah maupun belajar membaca al-Quran. Untuk pembelajaran al-Quran, bahkan telah didirikan rumah tahfiz dengan seorang imam dari warga keturunan yang juga hafiz 30 juz.

Keistimewaan lainnya adalah kegiatan usaha. Masjid, saat ini tidak saja berfungsi sebagai tempat ibadah, tapi juga merupakan tempat wisata relegius. Masjid sangat sadar bahwa arsitektur khas merupakan nilai lebih untuk sebuah pariwisata. Kekhasan arsitektur ini akan sangat pas bila dipadankan dengan kostum tradisonal Cina. Para pengunjung dapat menyewa pakaian tradisional Cina (lelaki dan perempuan) dan berfoto di sudut-sudut yang diperbolehkan.

Masjid ini juga mengusung tema pemotretan pengantin dalam konsep post-wedding. Pengantin baru yang telah melaksanakan akad nikah dibolehkan mengambil gambar di sini. Hal ini sebagai antitesis dari konsep pre-wedding, di mana pasangan yang belum halal secara syariat telah berdekatan secara intim dalam kegiatan pemotretan.