Masjid Huaisheng, Guangzhou, Cina dibangun paman Rasulullah SAW

Indra Muhammad Walidin 09-Sep-2020
dreamstime_s_76993907
Masjid Huaisheng, Guangzhou, Cina © Maocheng | Dreamstime.com

Pada tahun 2018, saya berkesempatan jalan-jalan ke kota Guangzhou, Cina.  Perjalanan secara backpacker itu membawa saya ke jalan Guangta Road No. 56 untuk menunaikan salat Jumat. Masjid Huaisheng berdiri dengan minaret ikonik bekas mercusuar berkubah setinggi 36 meter.

Adapun bangunan utamanya tidak seperti masjid-masjid di negeri muslim dengan arsitektur Timur Tengah, melainkan murni berarsitektur Tiongkok. Menurut sejarah, masjid ini adalah salah satu masjid tertua di Cina.  Tiga masjid tertua lainnya adalah Masjid Quanzhou Kylin, Masjid Yangzhou Crane, dan Masjid Hanzhou Phoenix.

Sejak pagi hari Jumat, saya memang telah bersiap mencari rute subway ke Masjid Huaisheng. Dari hotel tempat saya menginap di distrik Panyu, saya mengambil jalur subway dari Panyu Bridge Station. Tak berapa lama saya sampai di Stasiun Ximenkou dan keluar dari subway. Perjalanan ke masjid tidak terlalu jauh dari stasiun ini, sekitar 1.5 km saja.

Saya sampai di sana saat masjid belum terlalu ramai. Dengan demikian, saya masih sempat jelajahi bagian luar masjid. Saat mendekati waktu salat, semakin banyak pengunjung yang datang. Kebanyakan dari tamu-tamu Allah SWT ini berwajah Asia Tengah atau Asia Barat, di samping tentu saja penduduk lokal. Para pendatang itu kebanyak melakukan perjalanan bisnis di Guangzhou.

Maklum kota ini terkenal dengan kota industri pameran yang sering menggelar acara tahunan. Tema eksibisi ini berbagai macam, seperti pameran dekorasi gedung, furniture, peralatan biomedis, otomotif, automasi industri, lingkungan,  pariwisata dan budaya, hingga hiburan dan rekreasi. Dalam tahun 2019 saja, terdapat 690 pameran di Guangzhou.  Bisa dibayangkan betapa ramai pengunjung berbagai bangsa datang ke Guangzhou.

Saat di Masjid Huaisheng, saya meleburkan diri bersama jamaah dari berbagai bangsa tadi. Berhubung khutbah dibacakan dalam bahasa Mandarin, saya memilih berzikir saja sambil memperhatikan arsitektur masjid yang sangat indah khas Tiongkok ini. Saya melihat juga bangunan utama tidak bisa menampung seluruh jamaah. Maka pelataran yang cukup luas juga dijadikan tempat untuk menggelar sajadah bagi para jamaah.

Menurut informasi yang saya baca, masjid ini sudah berdiri sejak 627 Masehi, tepatnya pada masa Dinasti Tang (618-907 M). Pada masa ini, Islam diperkenalkan pertama kali di China. Yang membangun masjid ini adalah paman Nabi Muhammad SAW, yaitu Sa’ad bin Abi Waqas (595-674 M). Tentu saja bangunannya telah mengalami beberapa kali renovasi. Kabarnya, pagar masjid ini masih asli  buatan dari masa Dinasti Ming (1368-1644).

Selepas salat, saya berbaur dengan jamaah untuk keluar masjid. Ternyata, di luar sana telah banyak sekali penjual makanan halal yang menggelar dagangan. Bagi pengunjung yang hanya ingin mecicipi, bisa membeli beberapa makan kecil. Namun bila ingin makan siang, pengunjung bisa mampir ke restoran-restoran halal di depan masjid ini. Sayang sekali, saya tidak ikut merasakan kuliner di tempat ini karena harus segera menuju tempat wisata selanjutnya, Shamian Island.

Salah satu yang mengganggu penglihatan saya adalah munculnya para peminta-minta di gerbang masjid. Pemandangan ini sangat kontras bagi saya dengan keseharian warga Guangzhou yang pekerja keras. Selama seminggu di sana, saya belum pernah melihat pengemis satupun. Menurut saya, para pengemis ini bisa dikondisikan secara elegan untuk menjaga citra Islam di hadapan mayoritas non-Muslim.

Perkara bersedekah memang disyariatkan di dalam Islam. Apalagi di hari Jumaat, tuan segala hari. Kedatangan para pemburu sedekah ke masjid ini akan bertemu dengan para pemberi sedekah yang sudah berniat beramal baik. Para pengemis ini bisa dimuliakan dengan memberi tempat lebih privat di bagian lain, sehinggga tidak terlalu menonjol di jalanan depan masjid.