Masjid Ki Merogan, situs Islam di Karang Berahi, Palembang

Masjid Kiai Muara Ogan © inipalembang.com

Ketika mengetahui lokasi Masjid Ki Merogan (Ki Marogan) berada di Kampung Karang Berahi, Kecamatan Kertapati, Palembang, sontak ingatan saya terkenang dengan prasasti Karang Berahi dari Kerajaan Sriwijaya.  Saya berusaha mencari informasi apakah kedua Karang Berahi di atas adalah sama? Ternyata berbeda.

Karang Berahi yang kedua ternyata merupakan sebuah desa di Kecamatan Pemenang, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Di desa ini ditemukan  prasasti beraksara Sansekerta dan berbahasa Melayu Kuno (686 M) yang menceritakan tentang Kerajaan Sriwijaya.

Pada Karang Berahi Palembang, terdapat situs Relijus Islam dengan nama masjid Ki. Merogan alias Masjid Kiai Muara Ogan. Masjid ini merupakan masjid kedua yang dibangun di Palembang setelah masjid Agung (kini bernama Masjid Agung Sultan Mahmud Badarudin I Jayo Wikramo).

Situs ini tetap hidup hingga kini dalam melayani kegiatan keagamaan terutama untuk penduduk kampung Karang Berahi. Namun, banyak juga wisatawan yang datang kemari mengingat bahwa masjid ini masuk dalam 5 masjid tertua di Palembang.

Masjid Ki Merogan dibangun pada tahun 1871 M oleh ulama sekaligus pengusaha terkenal, yaitu Mgs. H. Abdul Hamid atau dikenal dengan Ki Merogan. Penamaan masjid Ki Merogan ini karena letak masjid berada di pertemuan Sungai Ogan dan Sungai Musi. Awalnya bernama Masjid Jamik  Kiai Haji Abdul Hamid bin Mahmud, kemudian juga disebut dengan Masjid Kiai Muara Ogan, tetapi masyarakat lebih mudah menyebutnya dengan masjid Ki Merogan.

Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, masjid ini memegang peranan penting dalam pembinaan kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat. Ki Merogan memiliki banyak murid yang berguru kepadanya. Salah satunya adalah Kiai Kemas Haji Abdurrahman Delamat yang mendirikan masjid Suro di wilayah Tangga Buntung.

Arsitektur Masjid Ki Merogan ini sama dengan masjid Agung Palembang, yaitu perpaduan arsitektur Islam, India, dan Cina. Di samping digunakan sebagai tempat beribadah sebagaimana biasa, masjid ini memiliki kegiatan yang besar setiap tahunnya, yaitu  kegiatan haul Ki Merogan pada setiap bulan Maret.

Tahun 2020, peringatan zikir dan haul Ki Merogan telah mencapai angka 119. Berhubung pandemi,  kegiatan dilakukan dengan sederhana. Padahal pada tahun sebelumnya, gelaran haul ini dihadiri oleh  15 ribu jamaah yang datang dari berbagai daerah.

Gempita dakwah Ki Merogan tidak terputus hanya di Karang Berahi, generasi keempat dari Ki Merogan yang dikenal dengan nama Ustaz Yayan mendirikan Pesantren Tahfiz Ki Merogan di Kelurahan Talang Betutu Sukarame Palembang. Walau lokasinya tidak dekat dengan masjid sang buyut, rumah tahfiz ini tetap terhubung dengan masjid Ki Merogan yang legendaris itu.

Begitulah dakwah, ia akan diteruskan oleh generasi yang saleh dan salehah. Bila moyangmu adalah seorang alim, ada kemungkinan darah dakwah juga mengalir dalam tubuhmu. Tetapi bila moyangmu bukanlah seorang ulama terkenal, maka ciptakanlah aliran darah dakwah dalam tubuhmu, sehingga keturunanmu dapat mewarisi kebaikan itu.