Masjid peninggalan Dinasti Umayyah

Sejarah 13 Des 2020 Muhammad Walidin
Pilihan oleh Muhammad Walidin
dreamstime_s_106745892
Masjid peninggalan Dinasti Umayyah di Damaskus, Suriah © - Dreamstime.com

Apakah bukti Islam mengembangkan toleransi beragama  pada wilayah taklukan? Lihatlah masjid Umayyah di Damaskus, Suriah. Masjid ini pernah menjadi bukti toleransi Kristen-Islam. Umat Kristen beribadah pada sisi barat, sementara Ummat Islam beribadah pada sisi timurnya. Sungguh indah, bukan?

Damaskus menjadi markas besar tentara romawi di wilayah Timur di mana saat itu Suriah di bawah kekuasaan Diocletian. Saat tentara Islam masuk ke Damaskus di bawah pimpinan Khalid bin Walid (592-642 Masehi), agama Kristen sudah mendominasi wilayah ini.

Islam sebagai rahmatan lil alamin

Dapat dikatakan bahwa penaklukan wilayah Syam (Damaskus) adalah penaklukan ketiga di luar jaziarah Arab, setelah Mesopotamia (Sassanid; Persia), dan Ghassanid; Byzantiumnya Arab. (kesemuanya dipimpin Khalid bin Walid).  Rasulullah SAW telah memulai membuka perjalanan ke utara ini saat perang Tabuk (630 Masehi) yang urung terjadi.  Penaklukan ini kemudian diteruskan oleh Umar bin Khattab pada tahun 636 M dengan mengutus Khalid bin Walid.

Islam sebagai rahmatan lil alamin datang dengan ke wilayah penaklukan penuh dengan toleransi, tanpa membedakan agama dan suku. Hal ini dapat anda buktikan di kota Damaskus, sebagai markas besar tentara Romawi.

Saat Khalid bin walid masuk, di sini ada gereja besar tempat kepala St. Yohannes (atau Nabi Yahya a.s) dikuburkan. Sehubungan dengan kebutuhan tempat ibadah bagai muslim pendatang, maka gereja ini membuka diri sebagai tempat peribadatan ummat Islam. Kenapa membuka diri? Sebab ummat Kristen rela berbagi ruangan gereja dengan muslim yang ingin beribadah, dan Khalid sebagai penakluk tidak serta merta mengambil alih gereja dan menjadikannya sebagai masjid.

Berbagi tempat ibadah antara pemeluk Kristen dan Islam ini berlangsung selama 79 tahun  hingga pemerintahan Khalifah Umayyah al-Walid bin Abdul Malik atau yang dikenal sebagai Walid I (668-715 Masehi). Al-Walid I ini memerintah selama 9 tahun dari 703-715 M. pada masa al-Walid I, Islam berkembang hingga mencapai Cina, India, dan Eropa (Spanyol).

Masjid Peninggalan Dinasti Umayyah

Nah, dapat dibayangkan bagaimana pola rahmatan lil alamin nya para pemimpin Islam. Di atas singgasananya di Damaskus, Khalifah al-Walid I saja tetap menjaga toleransi beragama dengan penduduk asli. Ia masih tetap berbagai rumah ibadah dengan pemeluk Kristen. (baca pulalah rahmatan lil alamin Musa bin Nusair yang ia kirim untuk menaklukkan Spanyol).

Seiring dengan bertambahnya pemeluk Islam dari kalangan Kristen, Khalifah melakukan negosiasi dengan pemimpin agama Kristen untuk menggunakan sisi barat sebagai tempat peribadatan Ummat Islam. Sebagai gantinya, khalifah membangunkan sebuah gereja baru yang didedikasikan untuk Perawan Maria di kota tersebut.

Menjadikan seluruh gereja sebagai masjid secara bertahap ini tidak lain karena pemeluk Islam bertambah dari jamaah gereja tersebut. Praktis, pemeluk Kristen yang terbiasa beribadah di sana setelah konversi ke agama Islam tetap beribadah di tempat yang sama, namun dengan akidah yang baru.  Perubahan fisik gereja tetap mempertahankan eksterior dan interior bangunan sebelumnya, seperti dua menara gereja.

Khalifah hanya menambahkan menara di sisi utara. Stuktur masjid dengan pilar-pilar batu pualam dan lantai/dinding berlapis marmer serta banyak lengkungan merupakan perpaduan gaya Romawi dan Islam. Khalifah memang mengundang arsitek dan seniman Persia, Mesir, India, Afrika Utara, dan Byzantium untuk menyelesaikan masjid yang menghabiskan dana Khalifah sebanyak 400 kotak, di mana setiap kota berisi 14 ribu dinar.

Sejujurnya, saya suatu saat ingin sekali salat di masjid ini. Saya juga berdoa agar andapun demikian.