Mau kaya? Jadi wirausaha aja

Kehidupan Bayu RI 01-Jul-2020
dreamstime_xs_178869346
Hidup secara kaya? © Sonyasgar | Dreamstime.com

Seringkali terjadi pemahaman yang keliru dalam mencari tolak ukur kesuksesan. Ada yang menilai sukses itu apabila menduduki jabatan tertentu dan menguasai banyak hal dalam berbagai bidang. ada yang menganggap sukses itu apabila memiliki harta dan kekayaan yang banyak. Namun ada pula yang menilai bahwa sukses itu adalah suasana hati yang tenang dan tercukupinya segala sesuatu yang dibutuhkan. Pada kesempatan ini kita akan menilai sukses dari sudut pandang harta dan kekayaan.

Pendidikan yang tinggi dengan sederatan nilai IP yang cumlaude tidaklah menjamin seseorang menjadi  kaya. Karena menjadi kaya sangat ditentukan oleh kepribadian seseorang. Dan hal terpenting dalam membangun kekayaan adalah memiliki jiwa wirausaha. Contoh sederhana digambarkan dalam kisah salah satu sahabat Nabi SAW yakni Abdurrahman Bin Auf r.a.

Ketika hijrah bersama Rasulullah SAW dan pengikutnya ke Madinah dan dipersaudarakan dengan kaum Anshor Madinah, Abdurrahman Bin Auf beserta rombongan diikat dengan persaudaraan iman yang bermuara dari kecintaan pada agama ini. Tawaran menikah dan harta dari kaum Anshor Madinah ia tolak secara halus dan ia lebih memilih untuk ditunjukkan dimana letak  pasar.

Abdurrahman Bin Auf r.a. dalam membangun ekonomi memiliki keuletan dan kemampuan dalam menganalisa peluang. Sehingga tercatat dalam sejarah Abdurrahman Bin Auf merupakan sahabat Nabi yang paling kaya. Dikutip dari artikel Dewan Syariah Nasional MUI, Dr. Yusuf Ibn Ahmad Al-Qasim berusaha melakukan riset perpustakaan sederhana untuk mencari tahu siapa saja para sahabat Rasulullah SAW yang memiliki kekayaan terbesar dan nilai aset tertinggi.

Rupanya sahabat Nabi yang terkaya ialah Abdurrahman bin Auf. Konon, nilai kekayaannya saat wafat Rp. 6.212.688.000.000. Kekayaan sahabat yang satu ini benar-benar membuat geleng-geleng kepala. Dia adalah orang kedelapan yang masuk Islam. Usianya 10 tahun lebih muda dari Nabi Muhammad SAW.

Seorang berjiwa wirausaha bisa menangkap peluang-peluang usaha yang ada, ia tidak akan mudah terpengaruh dengan tawaran-tawaran pekerjaan dengan gaji yang sudah ditentukan. Bahkan untuk melamar sebagai PNS pun tidak menjadi pilihannya. Seorang yang memiliki semangat wirausaha tidak mudah mengeluh, mencaci dan mencela. Berani memulai meskipun dengan tertatih-tatih.

Siapa sangka Nabi SAW ketika usia belia sudah memilih bekerja sebagai pengembala kambing, sebuah pekerjaan yang tidak mudah untuk anak seusianya. Namun walhasil tempaan demi tempaan yang ia jalani mengantarkan Muhammad remaja menjadi seorang bermental baja. Di usia remaja sudah mampu menjadi wirausaha dengan berdagang dalam skala yang besar.

Ada dua ciri khas wirausaha Muslim yang harus menjadi perhatian kita, yaitu selalu menjaga nilai-nilai agama, sehingga dirinya akan lebih berharga dan bernilai dari apa yang didapatkan dari usahanya. Ketika ia mendapatkan keuntungan, itu ia peroleh dengan cara cara yang jujur dan beretika. Kedua, apa yang telah ia dapatkan akan didistribusikan lagi dengan tujuan agar makin banyak orang yang dapat menikmati dan terpenuhi kebutuhannya.

Lalu apa pentingnya kaya? Aa Gym pernah menyampaikan dalam tausiyahnya ‘Saya tidak mau kaya tapi harus kaya’. Ini bermakna bahwa untuk membangkitkan umat Islam saat ini harus dengan kekuatan ekonomi. Sehingga umat Islam diharuskan memiliki semangat untuk menjadi kaya. Dengan kekayaan yang berada ditangan wirausaha Muslim yang amanah akan terdistribusikan kepada orang-orang yang membutuhkan yang sebagian  dari mereka adalah umat Islam.

Belum lagi jika ingin menyebarkan manfaat sebanyak banyak kepada masyarakat, tentunya lebih mudah dan mungkin dilakukan jika kekayaan dimiliki oleh wirausaha Muslim. Dan untuk menjawab tantangan menjadi kaya tidak lain yang mesti harus dilakukan adalah segera bentuk dan tempa diri untuk menjadi wirausaha. Ketahuilah sekecil apapun usaha yang dijalani,  kita adalah bosnya, dan setinggi apapun jabatan dalam suatu pekerjaan, kita tetaplah bawahan dari ownernya.