Memahami kekurangan diri

Kesejahteraan Mental 20 Des 2020 Komiruddin
Terbaru oleh Komiruddin
Memahami kekurangan diri
Memahami kekurangan diri © Airdone | Dreamstime.com

‘Nobody is perfect – Tak ada seorangpun yang sempurna’. Maka bagaimana kita bisa memahami kekurangan diri sendiri?

Kalimat di atas sering terucap saat kita mendapati kesalahan pada karya atau kerja seseorang yang tidak sempurna. Ia sebagai bentuk pemakluman atau pembelaan atas suatu kekurangan.

Memahami kekurangan diri

Allah SWT menciptakan manusia memiliki kelebihan-kelebihan sekaligus kekurangan-kekurangan. Sehebat apapun seseorang tidak akan kita temukan dalam suatu karyanya kesempurnaan yang mutlak. Pasti ada kekurangannya.

Ketika Andalusia jatuh setelah delapan abad di bawah pemerintahan kaum muslimin dengan peradaban yang tidak ada tandingannya di zamannya, seorang penyair yang bernama Abu Thayyib Az Zanady meratapi kejatuhannya dengan qashidah yang memilukan, dimulai dengan:

‘Segala sesuatu bila telah sempurna pasti menjadi kurang, maka janganlah seseorang terpedaya oleh kesenangan hidup’.

Seorang suami setelah menikah akan banyak melihat kekurangan pada istrinya. Juga sebaliknya, seorang istri akan banyak melihat kekurangan pada suaminya. Rakyat jelata akan melihat banyak kekurangan pada pemimpinannya setelah dia memimpin.

Seorang prajurit (jundi) akan melihat banyak kekurangan pada panglimanya (qiyadah) setelah ia menjabat jabatannya. Seorang penulis akan merasakan ada kekurangan dari karyanya setelah diterbitkan dan dibaca ulang.

Begitulah sifat dan karya manusia tidak akan pernah sempurna, akan selalu ada kekurangan.

Bersikap obyektif dan proporsional

Tentu, agar kita dapat bersikap obyektif dan tidak terjatuh kepada persepsi yang negatif terhadap sisi kekurangan manusia, maka ada beberapa hal harus kita fahami.

Pertama: Memahami bahwa manusia diciptakan tidak ada yang sempurna, sehebat apapun dia.

Kedua: Jika ada kekurangan di satu sisi yakinlah di sisi lain ada kelebihannya. Seorang suami atau istri misalnya tidak boleh membenci pasanganannya karena adanya kekurangan. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda:

“Dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda: seorang suami mukmin tidak boleh membenci istri mukminah, sebab apabila dia membenci satu akhlak dari istrinya tersebut maka dia pasti rida dengan akhlaknya yang lain.”

(Hadis riwayat Muslim)

Ketiga: Cukuplah seseorang itu dianggap memiliki keutamaan, jika kesempurnaan dan kebaikannya lebih banyak dari kekurangan dan kesalahannya.

Keempat: Hendaknya ini dijadikan peluang untuk saling menyempurnakan dengan saling tolong-menolong dalam kebaikan.

Kelima: Tidak meremehkan orang lain karena kekurangannya dengan menghina atau mengejeknya.

 “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok).”

(Quran surah al-Hujuraat, 49:11)

Penulis teringat akan pelajaran mahfuzhat dahulu saat masih di pesantren. Kumpulan syair-syair indah Basysyar bin Bard yang menjelaskan adab berteman.

Jika terhadap setiap perkara engkau mencela, engkau tak akan temukan teman yang tak kau cela.

Maka hiduplah sendirian atau berbaurlah dengan saudaramu, sebab ia sekali-kali dapat berbuat dosa atau menjauhinya.

Jika engkau tak hendak minum karena keruhnya air, maka engkau akan haus. Tak semua orang memiliki air yang jernih.

Untaian bait syair yang mengisyaratkan bahwa pada akhirnya kita harus memanusiakan manusia dan mengerti realitas lapangan. Sehingga mudah bagi kita untuk bersikap obyektif dan proporsional.