Memahami siklus kehidupan

Filsafat Komiruddin
Opini oleh Komiruddin
Memahami siklus kehidupan
Memahami siklus kehidupan © Paulus Rusyanto | Dreamstime.com

Kehidupan ini mengalami siklus dari masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa dan masa tua.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak…”

(Quran surah al-Hadid, 57:20)

Empat siklus kehidupan 

Pertama, Masa anak-anak. Sifat yang paling menonjol pada anak-anak adalah senang bermain (la’bun). Maka kita lihat sebagian besar dari waktu yang ada digunakan untuk bermain. Kebahagia pada masa ini adalah jika ia dapat memenuhi hasrat bermainnya secara maksimal.

Kedua masa remaja. Sifat yang menonjol pada fase ini adalah hura-hura (lahwun). Kadang mereka tak pernah berfikir akibat dari apa yang mereka lakukan. Bagi sebagian remaja syiarnya yang penting happy. Urusan akibat nanti belakangan. Lihat apa yang mereka lakukan ketika baru lulus SMP atau SMA.

Dimulai dari corat-coret baju, kompoi seharian dengan mengendarai motor sampai kepada pesta kelulusan di mana laki-laki dan perempuan berbaur kadang norma-norma agama sudah tak diperhatikan.

Ketiga, Masa dewasa, yaitu masa di mana mereka memulai mencari jati diri. Mencari asesoris dalam kehidupan (zinatun). Hura-hura mulai berkurang dan sudah bisa berpikir rasional dan realistis. Ia sudah mulai berpikir mencari perhiasan dan dan asesoris yang bisa menutupi kelemahan dan kekurangannya.

Dalam hal ini prestise dan prestasi menjadi prioritas utama. Sebab itulah yang menjadi perhiasan yang memukau. Sehingga dapat menjadi sesuatu yang dapat dibanggakan (tafaahurun).

Keempat masa tua, masa ini adalah masa bermegah-megahan (takaatsurun) dengan harta dan anak. Pada masa ini seseorang senang bercerita tentang hartanya yang berada dimana-mana.

Bercerita tentang prestasi anak-anaknya. Bahkan bisa jadi ia bercerita masa lalunya yang jaya. Bahwa ia pernah menjadi ini dan itu, menduduki jabatan ini dan jabatan itu. Bercerita masa mudanya yang berjaya, dan kadang diulang-ulang ceritanya.

Memahami siklus kehidupan

Dengan memahami siklus kehidupan dan peranti-peranti yang melingkupinya kita dapat menghindar dari hal-hal yang membahayakan. Ya, memang masanya bermain tapi pilihlah permainan yang positif dan mendidik. Oh, memang masanya hura-hura, tapi kita bisa membatasi jangan sampai kebablasan dan melanggar norma agama.

Memang masanya mencari jati diri dan membangun citra, tapi carilah perhiasan yang membuat mulia dihadapan Allah Taala. Bukan yang menghinakan. Memang masanya bermegah-megahan, tapi kejarlah bermegah-megahan denga kerja dan karya yang dapat dinikmati orang lain.

Demikianlah siklus kehidupan. Kadang kita terkagum-kagum dengan masa kanak-kanak yang lucu, pada masa remaja yang gagah, pada masa dewasa yang berkarya dan pada masa tua yang mapan dan berharta.

Namun kekaguman itu akan berakhir ketika seluruh permainan berhenti dan pesta kehidupan telah usai. Dan berakhirlah siklus kehidupan dunia begitu cepat.

“Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.”

(Quran surah al-Hadid, 57:20)

Saat itu seseorang baru sadar ketika telah melihat tempatnya, di Surga atau di Neraka:

“Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.”

(Quran surah al-Hadid, 57:20)

Ia baru ngeh (paham) bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu:

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

(Quran surah al-Hadid, 57:20)