Memaknai kemerdekaan ala Rasulullah SAW

Agama Kkartika Sustry 17-Agu-2020
Memaknai kemerdekaan ala Rasulullah SAW © Butenkow | Dreamstime.com

Dalam kamus KBBI, ‘Kemerdekaan’ merupakan suatu keadaan di mana seseorang atau negara bisa berdiri sendiri, bebas dan tidak terjajah lagi. Sedangkan merdeka adalah bebas dari penjajahan atau penghambaan.

Dalam konteks kemerdekaan Indonesia, bahwa rakyat Indonesia bebas dari segala bentuk penjajahan bangsa asing, terutama kolonialisme Belanda yang sudah 3,5 abad menduduki dan menjajah bangsa Nusantara dengan segala sumber daya alam yang melimpah. Bangsa yang menjajah Indonesia di antaranya Portugis meski tidak terlalu berhasil, Belanda yang telah menguasai Indonesia seutuhnya. Jepang hanya beberapa tahun bagitupun dengan Inggris.

Pada masa Rasulullah SAW,  awal mula Baginda melakukan penyebaran Islam dihadapkan pada masalah masyarakat dengan tiga kategori: disorientasi hidup, penindasan ekonomi, dan kezaliman sosial. Disorientasi hidup yang ditandai dengan penyembahan patung patung berhala oleh masyarakat Quraisy. Penindasan ekonomi yang ditandai dengan perputaran uang hanya di kalangan pembesar atau kelompok tertentu saja dan ini menjadi sebuah ketidakadilan bagi masyarakat rendah.

Rasulullah SAW akhirnya mengkritik orang-orang yang mengumpulkan harta tanpa mempedulikan rakyat kecil tanpa memikirkan kesejahteraan dan keadilan ekonomi. Sebagaimana dalam Al-Quran, surah al-Ma’un, ayat 2-3: “Maka itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”

Demikian pula pada kategori kezaliman sosial yang dilukiskan seperti aibnya ada anak perempuan, banyaknya para budak. Maka Rasulullah SAW menyampaikan untuk memuliakan perempuan, membebaskan para budak dan memahami hak hak laki laki dan perempuan. Pada akhir haji Wada’, Baginda berpesan: “Tidak ada perbedaan antara ras, kulit putih dan hitam, antara Arab dan non Arab, melainkan karena ketakwaannya.” (Surah al-Hujarat, ayat 13)

Saat itu, Rasulullah SAW mengalami penjajahan dari bangsanya sendiri yaitu kaum kafir Quraisy. Rasulullah tidak bisa menyuarakan pikiran, ide-idenya, dan ajaran Islam. Umatnya disiksa, bahkan Rasulullah dan para pengikutnya diusir dari tanah kelahirannya sendiri. Inilah saat saat Baginda dijajah oleh kaum Quraisy karena melakukan dakwah penyebaran Islam. Hingga akhirnya Baginda memutuskan hijrah ke Madinah untuk menyebarkan Islam.

Di sana, Nabi Muhammad SAW mendapat sambutan yang baik dan bisa mendapatkan pendukung yang banyak. Pada akhirnya kekuatan yang sudah ia buat dijadikan kesatuan untuk melakukan perjuangan di kota Mekkah. Baginda akhirnya berhasil mengalahkan kaum kafir Quraisy dan merdeka untuk selamanya, merdeka untuk mengajarkan dan menjalankan agama Islam. Umat Islam bebas, otonom dan terlepas dari penjajahan suku lain.

Senin, 17 Agustus 2020 masyarakat Indonesia kembali memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke 75 tahun. Bila ditinjau dari historis bahwa kemerdekaan tersebut sudah tiga perempat abad, artinya bukan umur yang pendek untuk sebuah negara. Memaknai Kemerdekaan RI dengan mengingat bagaimana perjuangan para pahlawan Indonesia yang dengan lantang Bung Tomo menyuarakan takbir kemudian dikawal para ulama menjadikan Indonesia merdeka.

Umat Islam menjadi pendukung pertama kemerdekaan pada saat itu maka sampai sekarang pun kita sebagai bangsa Indonesia juga umat Islam hendaknya mensyukuri kemerdekaan Indonesia dengan hal-hal positif dan sesuai ajaran Islam. Merdeka yaitu bebas memerangi hawa nafsu untuk berbuat keji dan munkar. Sebagai bangsa yang beragama dengan tetap menjaga kesatuan negara Republik Indonesia dan mengedepankan akhlak mulia.

Jika kita sebagai pengusaha maka jadilah pengusaha yang tidak menindas orang miskin, jika kita seorang ilmuwan hendaknya mengambil kebijakan dengan memperhatikan berbagai pihak. Jadilah merdeka dengan tetap memperhatikan hak sendiri dan tidak menzalimi orang lain.