Memaknai tradisi Lebaran Ketupat

Budaya Muhammad Walidin 05-Jun-2020
Memaknai tradisi Lebaran Ketupat © Raul Baldean | Dreamstime.com

Hari raya Idul Fitri 1441 H baru saja berlangsung, tepatnya tanggal 25 Mei 2020. Tentu saja, momen 1 Syawal 1441 H ini disambut gembira oleh seluruh muslim dunia. Berbagai tradisi dilaksanakan untuk merayakan hari kemenangan, mulai dari berpakaian terbaik menuju lapangan terbuka untuk salat Ied, menghidangkan menu yang beraneka rupa, bersilaturrahmi dengan keluarga dekat, hingga berkunjung ke berbagai tempat wisata. Akan tetapi, dalam suasana pandemi Covid-19 ini, beberapa hal tentu dilewatkan dan diganti dengan model terbaru, seperti silaturrahmi online, dsb.

Bagi sebagian ummat Islam di Indonesia, terutama di Jawa, Eforia 01 Syawal tidak berlangsung dengan gempita. Dilakukan seadanya saja. Sebab pada tanggal 02 Syawal, puasa akan dilanjutkan lagi selama 6 hari kedepan. Ini dinamakan puasa syawal. Kata Nabi Muhammad SAW, puasa 6 hari pada bulan syawal, pahalanya sama dengan puasa sepanjang tahun. Pada tanggal 08 Syawal, barulah perayaan hari raya disemarakkan, dengan nama Lebaran Ketupat atau Kupatan. Hidangan utama ketupat disertai lauk berbahan dasar santan, seperti opor, rendang, dan sambal kentang menjadi menu favorite di hari ini.

Secara historis,  tradisi hari raya ketupat dimulai pada masa pemerintahan Sultan Paku Boewono IV. Beliau adalah raja ketiga kesunanan Surakarta (Solo) pada tahun 1788-1820 M. Ada banyak tradisi yang menyertai hari raya ini. Pada pagi hari, biasanya dilaksanakan sedekah laut dengan melarung kepala kerbau ke laut selatan sebagai bentuk rasa syukur para nelayan kepada Sang Razzaq. Tak lupa, gunungan-gunungan ketupat juga diarak untuk dibagikan kepada pengunjung. Kegiatan dilanjutkan dengan silaturrahmi dengan handai tolan. Perayaan ini tetap berlangsung hingga kini dengan kegiatan yang berbeda-beda.

Di wilayah pulau Sumatera, tradisi hari raya ketupat dibawa oleh para pendatang dari pulau Jawa. Gaungnya tidak terlalu terdengar karena tradisi-tradisi sampiran bersifat massal tidak ditemukan sebagaimana di tempat aslinya. Hal ini justru menjadi celah bagus bagi upaya pemaknaan kembali hari raya ketupat. Pelaksanaan hari raya ini perlu disosialisasikan lebih lanjut mengingat hal positifnya yang sangat banyak.

Hari raya 1 Syawal dimungkinkan selalu bernuansa eforia, terutama dalam hal makanan.  Segala jenis makanan telah disediakan oleh ibu-ibu untuk melayani selera makan anggota keluarga yang selama sebulan Ramadhan dikekang. Banyak orang berfikir hari raya Idul Fitri adalah hari kemenangan dalam menaklukkan nafsu makan. Oleh karena itu, ketika Ramadhan berakhir, kemenangan ini harus dirayakan dengan makan apa saja sepuasnya. Kondisi ini tentu tidak baik bagi kesehatan. Puasa diyakini meregenerasi sel-sel tubuh dan memperbaharui kerusakan yang terjadi akibat pola hidup yang tidak sehat. Ketika regenerasi sel telah tercapai dan sukses, kemudian pola makannya kembali berlebihan tentu akan mengakibatkan shock culture bagi organ-organ tubuh yang berkepentingan.

Di sinilah letak penting Lebaran Ketupat. Dengan imajinasi akan ada hari raya lain setelah idul fitri, maka perayaan makan-makan di tanggal 01 Syawal bisa dikendalikan. Segera setelah 30 hari berpuasa, dilanjutkan dengan 6 hari di bulan syawal. Tentu saja perayaan hari raya ketupatpun tidak harus berlebihan. Sebab inti dari puasa adalah belajar mengendalikan diri, termasuk dalam hal mengkonsusmi makanan. Kita harus berfikir lagi untuk melakukan puasa sunnah senin dan kamis sebagai pengendalian diri dari nafsu makan yang berlebih. Demikian juga harus berfikir untuk melakukan puasa Ayyamul Bidh, puasa 3 hari di setiap bulan penanggalan Islam. Menurut sebuah penelitian puasa selama 3 hari setiap bulan ini dapat meregenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh, termasuk para lansia. Studi tersebut menyebutkan bahwa puasa dapat merangsang sel untuk menghasilkan sel darah putih yang baru, yang dapat membantu dalam memerangi infeksi apapun. Nah, siapakah yang tidak tertarik dengan tubuh yang kebal dari virus, herd immunity, di musim pandemi? Maka berpuasalah.