Membaca zikir Rotib Haddad

Jiwa Umri 17-Sep-2020
dreamstime_s_25876551
Membaca zikir Rotib Haddad © Paulus Rusyanto | Dreamstime.com

Setiap hari sabtu malam ahad sekitar pukul 20:00 waktu Indonesia barat (WIB), saya ikut serta majelis pembacaan zikir rutin Rotibul Haddad. Majelis ini diberi nama majelis Nurul Awwabien yang diasuh oleh Al-Ustaz Kgs. Muhammad Toyyib seorang yang sangat alim, tawaduk dan istikamah dalam taat kepada Allah SWT.

Majelis ini sudah berdiri sejak tahun 2010 dan muridnya sudah tersebar di berbagai daerah Sumatera Selatan, di antaranya kota Palembang, desa Langkan dan kota Lubuk Linggau yang secara rutin selalu membaca zikir Rotibul Haddad.

Rotibul Haddad sudah berusia lebih dari 300 tahun, penyusun atau pengarang rotib ini adalah al Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad al Haddad (1055-1132 Hijriah). Indonesia lebih mengenal rotib ini dengan sebutan Rotibul Haddad yang diambil dari nama beliau sendiri. Dari beberapa doa dan dzikir yang beliau susun, Ratib al Haddad yang paling terkenal dan masyhur. Rotibul Haddad disusun berdasarkan inspirasi pada malam Lailatul Qodar 27 Ramadhan 1071 H.

Pada bulan Ramadan, ratib ini dibaca sebelum shalat Isya untuk mengisi kesempitan waktu menunaikan shalat Tarawih. Ini adalah waktu yang telah ditentukan oleh al Habib Abdullah bin Alwi al Haddad untuk daerah-daerah yang mengamalkan Ratib ini. Biidznillah, rotib ini sangat kaya dengan manfaat.

Rotib ini sudah dibaca di berbagai kota, desa dan bahkan negara di seluruh dunia. Termasuk setelah al Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad berangkat menunaikan ibadah Haji, Ratib al Haddad mulai dibaca di Makkah dan Madinah.

Al-Habib Ahmad bin Zain al Habsyi berkata, “Barang siapa yang membaca Ratib al Haddad dengan penuh keyakinan dan iman, ia akan mendapat sesuatu yang di luar dugaannya”. Setiap ayat, doa, dan nama Allah SWT yang disebutkan di dalam ratib ini diambil dari bacaan al-Quran dan hadis Rasulullah SAW. Bilangan bacaan di setiap doa dibuat sebanyak tiga kali, karena itu adalah bilangan ganjil (witir).

Semua ini berdasarkan arahan dari al Habib Abdullah bin Alwi al Haddad sendiri. Saya termasuk yang sangat mencintai Rotibul Haddad ini. Susunan kalimat demi kalimat dalam rotib ini indah sekali, pantas saja rotib ini masuk ke dalam setiap hati orang yang membacanya.

Dimulai dengan bershalawat kepada baginda Rasulullah SAW, lantunan doa untuk penyelesaian masalah, impian, benteng diri dalam iman dan keselamatan. Nama Allah SWT yang disebut dengan berulang ulang, membuat orang yang membaca rotib ini sangat dekat dengan Allah dan Rasul-Nya. Sulit dan tidak ada kalimat indah yang bisa mewakili dari indahnya susunan rotib ini.

Ustad Ahmadi (guru sekaligus pembimbing majelis Nurul Awwabien) sudah lebih dari 10 tahun membaca rotib ini, bertutur: “Selain urusan dunia yang diurusin oleh Allah SWT, setelah membaca rotib ini hati terasa tenang, aman dan nyaman. Lebih dari itu, silaturahmi antar sesama pembaca rotib erat sekali.”(wawancara langsung).

Banyak bentuk zikir yang bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Perintah untuk berzikirpun terdapat dalam al-Quran seperti dalam surah al-Ahzab : 41-44, surah al-A’raf : 205, surah al-Hasyr : 19, dan surah Al-Anfal : 45. Mari jadikan zikir rotibul Haddad sebagai penentram jiwa dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.