Memuliakan tamu yang datang ke rumah

Kehidupan Umri 03-Okt-2020
dreamstime_s_181048666
Memuliakan tamu yang datang ke rumah © Odua | Dreamstime.com

Tamu bukanlah hal yang asing di telinga orang Indonesia, setiap hari kegiatan ini selalu saja terjadi di masyarakat. Namun, yang perlu diperhatikan ialah bagaimana cara memuliakan tamu yang datang ke rumah.

Mulai dari masyarakat umum sampai dengan kepala negara. Bertamu dapat mempererat silaturahmi antar tetangga, antar teman, antar guru dan murid bahkan antar satu negara ke negara lain.

Memuliakan tamu adalah bagian dari kualitas iman

Nabi Muhammad SAW menjadikan urusan memuliakan tamu adalah bagian dari kualitas iman seseorang. Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata Rasulullah SAW telah bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berbuat baik kepada tetangganya, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”

(Hadis riwayat al-Bukhari)

Tamu dapat didefinisikan sebagai orang yang datang berkunjung atau melawat ke tempat orang lain dalam acara perjamuan antara dua orang atau lebih yang datang untuk menginap atau bersinggah sementara.

Cara memuliakan tamu dilakukan antara lain:

  • Menyambut kedatangannya dengan muka manis
  • Bertutur kata yang lemah lembut
  • Mempersilahkan duduk di tempat yang baik
  • Kalau perlu sediakan ruangan khusus
  • Untuk menerima tamu hendaklah selalu menjaga kerapian dan keasrian rumah
  • Kalau tamu datang dari tempat yang jauh dan ingin menginap, tuan rumah wajib menerima dan menjamunya maksimal tiga hari tiga malam. Lebih dari tiga hari, terserah kepada tuan rumah untuk menjamunya atau tidak

Menurut Rasulullah SAW, menjamu tamu lebih dari tiga hari nilainya sedekah, bukan lagi kewajiban. Menurut Imam Malik, yang dimaksud dengan jaizah sehari semalam adalah memuliakan dan menjamu tamu pada hari pertama dengan hidangan istimewa dari hidangan yang biasa dimakan tuan rumah sehari-hari. Sedangkan hari kedua dan ketiga dijamu dengan hidangan biasa sehari-hari.

Kata ‘Tamu’ atau Dayf

Kata ‘Tamu’ dalam istilah bahasa Arab yakni ‘Dayf’. Dalam Kitab Fath al-Rahman, kata dayf terulang sebanyak enam kali yakni:

  1. Pada surah Al-Hijr, ayat 51
  2. Adz-Dzariyat, ayat 24
  3. Hud, ayat 78
  4. Al-Hijr, ayat 68
  5. Al-Qamar, ayat 37
  6. Al-Kahfi, ayat 77 – Yudayyifu huma

Berikut kisah Nabi Ibrahim a.s dijadikan contoh dalam menjamu tamu yang datang:

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: ‘Salaman’. Ibrahim menjawab: ‘Salamun’ (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka Baginda pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. (Tetapi mereka tidak mau makan), Ibrahim lalu berkata: ‘mengapa tidak kamu makan’. Karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: ‘Janganlah kamu takut’, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).”

(Surah adz-Dzariyat, ayat 24-28)

Memuliakan tamu merupakan wujud dari kualitas iman seseorang, semakin baik dia dalam memuliakan tamu maka sebaik baik kualitas imannya. Lalu menjamu tamu merupakan kewajiban yang jangan sampai ditinggalkan.

Semoga kita termasuk yang baik kualitas imannya dan baik juga dalam memuliakan tamu.