Mencari jejak Angpao Lebaran (1)

Mencari jejak Angpao Lebaran © Aiman Khair | Dreamstime.com

Sejak kapan tradisi Angpao Lebaran dimulai? Mengapa ia bernama angpao yang merupakan kata serapan dari bahasa Mandarin? Mengapa tidak memakai nama yang Islami saja?

Pertanyaan ini mulai menggugah penulis atau juga mungkin para pembaca. Oleh karena itu, kita akan sedikit mengintip jejak masuknya kata angpao dalam tradisi Lebaran.

Tujuh kebiasaan Rasulullah SAW dalam menyambut Idul Fitri

Bila ditelusuri dari sunah Nabi Muhammad SAW dalam menyambut Idul Fitri,  memang ditemukan istilah yang bisa dikaitkan dengan angpao. Diketahui  ada tujuh kebiasaan beliau dalam menyambut hari ini:

  1. Makan sebelum salat Idul Fitri
  2. Berpakaian terbaik dan memakai wewangian
  3. Membayar zakat fitrah
  4. Menempuh rute yang berbeda saat pergi dan pulang
  5. Bersenang-senang sewajarnya
  6. Mengunjungi yang sakit dan bersilaturrahmi

Dari kebiasaan Nabi SAW di atas, terdapat dua hal yang berkaitan dengan angpao, yaitu membayar zakat dan bersenang-senang sewajarnya.

Zakat fitrah adalah kewajiban Muslim dalam mengeluarkan hartanya sebesar satu sha’ kurma atau  gandum. MUI mengkonversi timbangan tersebut menjadi 3 kilogram beras.

Setiap Muslim, lelaki atau perempuan, bayi atau dewasa, budak atau merdeka harus berzakat. Dan Rasul memberi contoh waktu pemberian zakat ini sebelum salat Idul Fitri. Betapa senangnya pula pemberi zakat mengetahui para mustahiq berbahagia dengan pemberian yang dapat dimanfaatkan dalam menyambut hari raya.

Pada hari ini, kaum Muslim biasanya sudah membayarkan zakat sebelum bulan ramadhan berakhir, bukan sebelum salat Idul Fitri. Hal ini tidak menyalahi sunah, tapi demi efisensi waktu.

Para amil zakat memiliki waktu untuk membagi zakat kepada para mustahiq sesuai tuntunan. Sebab pembagian zakat fitrah setelah solat Id hukumnya makruh dan wajib bagi pezakat untuk melakukan qodo’.

Bila zakat fitrah bisa membuat senang mustahiq sebelum salat Id? Apakah yang bisa membuat anak-anak senang di saat berkumpul pasca salat Id? Ada banyak pilihan seperti makanan, kue, hadiah mainan, dan sebagainya.

Memberikan uang kecil sebagai hadiah menjadi pilihan terbaik

Namun, mengadakan semua itu tentu perlu persiapan. Oleh karena itu, memberikan uang kecil sebagai hadiah menjadi pilihan terbaik. Mereka akan senang karena uang tersebut bisa dikumpulkan dan dibelikan sesuatu sesuai kebutuhan mereka.

Pemberian uang kecil ini biasanya dikemas dalam amplop. Seiring berkembangnya teknologi cetak, amplop tadi dicipta semakin apik, mulai dari nuansa hijau sebagai warna Islam hingga tokoh-tokoh kartun kegemaran anak.

Kemudian, timbul polemik dalam persoalan pemberian ini. Apakah akan dinamakan zakat fitrah? Tentu bukan! walaupun tujuannya sama, yaitu memberikan kesenangan di hari Lebaran. Apakah harus dinamakan sedekah? Bisa saja, sebab kata Nabi pemberian zakat setelah Idul Fitri dianggap sedekah.

Namun KBBI merumuskan makna sedekah sebagai pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan pemberi. Arti ini tidak tepat bila penerimanya adalah anak-anak sendiri, saudara, kerabat dekat dan bukan tergolong faqir miskin.

Sebelum orang Islam sendiri bisa mengusulkan nama kepada KBBI untuk istilah ini, nampaknya kita masih harus meminjam perbendaharaan kata Mandarin – Angpao. Dalam KBBI, angpao memiliki dua arti:

  1. Amplop kecil untuk tempat uang sumbangan yang diberikan kepada orang yang punya hajat (perkawinan dan sebagainya) dalam adat Cina
  2. Hadiah atau pemberian uang (pada hari Tahun Baru Cina dan sebagainya)

Dari kamus KBBI di atas, ternyata penggabungan angpao dan Lebaran tidak tepat. Namun solusi masih terbuka, misalnya menambah satu arti lagi untuk kata angpao dalam KBBI: 3. Amplop kecil berisi uang yang dibagikan kepada anak-anak saat Idul Fitri.