Meneladan Musa a.s – kepergian penuh kebaikan

Filsafat Roni Haldi Alimi
Terbaru oleh Roni Haldi Alimi
Meneladan Musa a.s - kepergian penuh kebaikan
Meneladan Musa a.s - kepergian penuh kebaikan © Michal Balada | Dreamstime.com

Ada kalanya yang duduk sebagai pemimpin menyepelekan hak yang dipimpin. Yang berkuasa ada kalanya merasa berhak sepenuhnya mengatur kehendak dan selera orang lain yang tak punya daya.

Mereka yang kuat tak jarang menindas yang lemah. Yang lemah selalu berusaha bangkit membela diri dari ketidakadilan. Bagi yang di tangannya menggenggam kekuasaan, terkadang tergoda menggunakannya untuk memamerkan kedudukannya.

Tekanan penguasa terhadap Nabi Musa a.s

Karena kaumnya diimpit ditekan kekuasaan Firaun, Nabi Musa ‘alayhis-salam tidak bisa berdiam diri saja. Pada titik tertentu, perlawanan itu niscaya. Apatah lagi ketika ketidakadilan itu diperlakukan para rakyat jelata kaumnya.

Demikianlah, Nabi Musa a.s membela seorang laki-laki yang tertindas dari kaumnya, Bani Israil. Yang berakhir dengan terbunuhnya lawan perseteruan itu, yang tak lain pengikut Firaun.

Perkelahian yang berujung kekalahan dan kehilangan nyawa dari pengikut Firaun tentu bukan tak beralasan; terjadi tak mampu dihindari. Itu adalah akumulasi dari persepsi diri dan masyarakat Bani Israil yang sering dizalimi, diperlakukan tak adil. Berangkat dari rasa pribadi melampaui persepsi diri dan akhirnya meluas menguat menjadi persepsi umum Bani Israil.

Kendati ada cukup alasan melakukan pembelaan, Nabi Musa ‘alayhis-salam segera memohon ampun kepada Allah Taala. Memohon ampun sebagai bentuk kesadaran atas kesilapan diri.

Di sisi lain, cemas adanya pembalasan dari pihak yang berkuasa itu lumrah. Tak pandang bulu. Terlebih pihak yang akan balas dendam punya kekuasaan besar dan semena-mena.

Tak terkecuali seorang Nabi seperti Musa ‘alayhis-salam pun didera rasa cemas. Hasil perbuatannya pasti dimintai pertanggungjawaban oleh sang penguasa: Firaun. Maka, bulat putusan diambil.

Keluarlah Nabi Musa ‘alayhis-salam dari kota Mesir dalam suasana hati yang sulit digambarkan. Rasa takut, waspada kalau ada yang menyusul atau menangkapnya. Sambil berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dariorang-orang yang zalim itu.”

“Dan ketika dia menuju ke arah negeri Madyan dia berdoa lagi: Mudah-mudahan Tuhanku memimpin aku ke jalan yang benar.”

(Quran surah al-Qashash, 28:22)

Kepergian penuh kebaikan

Kepergian Nabi Musa ‘alayhis-salam keluar meninggalkan kemegahan negeri Mesir dan istana Firaun menuju negeri Madyan. Ada sebuah pengajaran berharga yang diajarkan kepada kita.

Kepergian dalam suasana ketakutan hati dan kewaspadaan diri dari segala bentuk ancaman kekuasaan diawali dengan lantunan doa:

“Mudah-mudahan Tuhanku memimpin aku ke jalan yang benar.”

Tampak di sini Nabi Musa ‘alayhis-salam memiliki kesadaran pribadi yang utuh, kuat, jelas, dan mendalam tentang arah dan tujuan hidup. Pilihan jalan hidup beserta prinsip dan nilainya.

Konsep diri yang menciptakan perasaan terarah dalam struktur kesadaran pribadi kita. Kesadaran yang mempertemukan antara kehendak-kehendak Allah Taala dengan keinginan-keinginan kita manusia.

Karena itu, seorang Muslim tidak bertanya tentang apa yang ia inginkan bagi dirinya dan hidupnya. Namun, seorang Muslim akan bertanya terhadap apa yang Allah subhanahu wa ta’ala inginkan bagi dirinya.

Seorang Muslim tidak bertanya, “Saya ingin menjadi apa?” Seorang Muslim seharusnya bertanya, “Allah SWT menginginkan saya jadi apa?” Sebagaimana dinukilkan Anis Matta dalam Delapan Mata Air Kecemerlangan.