Meneladani akhlak Fatimah Az-Zahra

Agama Kkartika Sustry 04-Okt-2020
dreamstime_s_188043096
Meneladani akhlak Fatimah Az-Zahra © Thanakorn Phanthura | Dreamstime.com

Meneladani akhlak Fatimah Az-Zahra r.a, tentunya tidak diragukan. Jika dilihat dari aspek genetik, baik ketika Sayyidah Fatimah Az-Zahra setelah lahir maupun sebelumnya.

Sayyidah Fatimah r.a putri dari Baginda Rasulullah SAW. Ibunya Sayyidah Khodijah al-Kubra binti Khuwailid r.a, wanita mulia. Tidak ada yang mampu melewati kemuliaannya (Lihat: Sibel Fatimah Az-Zahra – Kerinduan dari Karbala, 67), baik secara akhlak maupun sebagai panutan banyak orang. Fatimah dipelihara dengan penuh kasih sayang, juga hidup dengan ceria.

Fatimah Az-Zahra r.a dikenal sebagai wanita yang berakhlak mulia, pemilik jiwa yang suci, berperasaan lembut, dan cerdas. Kelembutan jiwa dan keindahan pekertinya disempurnakan dengan kecerdasan pikiran dan ketangkasannya. Ia tak pernah melakukan atau mengucapkan sesuatu yang sia-sia, tidak pula mendekati perilaku yang tercela. (Lihat: Muhammad Abduh, Hanya Fatimah, 373)

Sayyidah Fatimah dan empat wanita dari Surga

Fatimah Az-Zahra r.a tidak pernah menggunakan lisannya kecuali untuk mengatakan kebenaran. Setiap ucapannya dikatakan dengan jujur, dan tidak pernah menyebutkan keburukan seseorang, atau menyebut orang lain dengan kata-kata yang buruk.

Ia tidak suka bergosip, apalagi mengadu domba. Tak suka bercanda berlebihan, apalagi mengatakan sesuatu yang sia-sia. Dengan kukuh ia akan menjaga rahasia, memenuhi setiap janji, dan menasehati siapa yang memintanya. Ia sadar bahwa kedudukan mulia di sisi Rasulullah SAW yang dicapai suaminya adalah buah dari kejujuran dan kesetiaannya menyampaikan amanat.

Ketika kelahiran Sayyidah Fatimah Az-Zahra r.a, diceritakan dalam ucapan Imam Shadiq r.a bahwa ketika Sayyidah Khodijah binti Khuwailid r.a menikah dengan Rasulullah SAW, tidak ada perempuan Quraisy yang mau menjenguk Sayyidah Khodijah.

Bahkan, ketika dia melahirkan Sayyidah Fatimah r.a, Allah SWT mengirimkan empat wanita dari Surga. Kemudian salah satunya mengenalkan diri seraya berkata: “Saya adalah Sarah, istri Ibrahim a.s dan ini adalah Asiyah putri Muzahim (Istri Firaun) dan dia adalah temanmu di Surga. Ini adalah Maryam putri dari Imran a.s, juga ini Shafura putri dari Syuaib a.s. Kami adalah utusan Allah untuk menolongmu.”

Meneladani akhlak Fatimah Az-Zahra

Banyak sekali yang bisa kita teladani dari Sayyidah Fatimah Az-Zahra r.a sebagai Putri Rasulullah SAW. Sayyidah Fatimah tidak menjadi perempuan yang angkuh apalagi berbuat buruk. Ia dikenal dengan kelembutan hati, suka menolong dan dermawan.

Dikuatkan lagi pada kisah berikut ini, suatu ketika Rasulullah SAW sedang di masjid, lalu dihampiri oleh seorang musafir untuk meminta bantuan. Lalu Rasulullah tidak apa-apa untuk diberikan. Kemudian, Baginda mengarahkan musafir tersebut untuk ke rumah putrinya, Sayyidah Fatimah r.a.

Sayyidah Fatimah r.a tidak memiliki apapun untuk diberikan, kecuali kalung pernikahan mereka. Ia berharap bisa membantu musafir tersebut. Mendengar hal tersebut, Rasulullah SAW terharu dengan sikap putri tercintanya. Lalu pemuda musafir tersebut menjual kalung tersebut kepada sahabat Nabi, Ammar bin Yasir r.a seharga 20 Dinar, juga memberikan pakaian untuk musafir tersebut.

Sahabat tersebut akhirnya meminta budaknya untuk menghadiahkan kalung kepada Rasulullah SAW beserta budaknya yang bernama Asham. Ketika sampai kepada Rasulullah, Baginda pun tersenyum dan melakukan hal yang sama dengan Ammar bin Yasir yaitu meminta Asham untuk memberikan kepada Fatimah Az-Zahra r.a.

Ketika sampai, Sayyidah Fatimah r.a kebingungan tetapi budak bernama Asham tertawa lalu berkata: “Sungguh berkah dari kalung yang diberikan Sayyidah Fatimah r.a. Ia telah mengenyangkan orang lapar, telah menutupi tubuh orang telanjang, telah memenuhi hajat orang fakir dan membebaskan seorang budak.” Masih banyak lagi riwayat tentang keteladanan Sayyidah Fatimah Az-Zahra yang bisa kita jadikan pelajaran berharga.