Buletin SalamWebToday
Sign up to get weekly SalamWebToday articles!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Menempatkan orang sesuai kedudukannya

Masyarakat 25 Nov 2020
Menempatkan orang sesuai kedudukannya
Menempatkan orang sesuai kedudukannya © Zulkiffle Mohd Kassim | Dreamstime.com

‘Menempatkan orang sesuai kedudukannya’. Bos, om, pak haji, bu hajah, bunda dan sebagainya adalah bentuk komunikasi yang mendekatkan hati pengguna jasa atau konsumen.

Kalimat-kalimat di bawah sering kita dengar dari seorang tukang parkir atau pedagang yang menawarkan dagangannya.

“Terima Kasih bos.”
“Terima Kasih pak haji.”
“Pak haji, mampir pak haji…. Lihat lihat dulu….”
“Bunda, cari apa bunda.”
“Ayo bu hajjah, siapa tahu cocok. ”
“Ayo bos, harga discon. Ini cocok untuk bos.”

Menempatkan orang sesuai kedudukannya

Mereka, walaupun tidak belajar ilmu komunikasi sangat memahami psikologi yang diajak bicara. Siapa yang tidak senang dipanggil bos, walaupun sebenarnya dia bukan bos, atau dipanggil pak haji dan bu haji walau dia belum haji.

Dengan perlakuan seperti itu, seseorang yang dipanggil bos, pak haji, bu hajjah atau om paling tidak ia merasa dihormati dan dihargai, selanjutnya dia akan ikhlash merogo kantongnya untuk memberi atau membeli.

Sukses tidaknya pemasaran produk tergantung cara bagaimana memasarkannya. Ada kata-kata yang sering kita dengar ‘Ath Thariqah ahammu minal madah’ atau cara lebih penting daripada materi.

Barang baru dan bagus, tapi menawarkannya dengan cemberut, acuh dan tak beretika, dapat dipastikan konsumen akan lari. Sebaliknya barang yang tidak terlalu baik tapi dikemas dengan kemasan bagus dan ditawarkan dengan ramah orangpun akan tertarik.

Bila dakwah dan risalah ini kita umpamakan barang yang hendak dipasarkan, maka mengemasnya dengan kemasan yang menarik adalah keharusan. Dakwah ini bila disampaikan dengan lemah lembut, ikhlash, penuh kecintaan, memilih tempat dan waktu yang pas, maka orang akan datang berbondong bondong menyambutnya.

Bahkan harus dicari terobosan baru supaya orang tertarik untuk mengikuti kita, hanya dari melihat dan mengenal kita secara zahir.

Mari belajar dari Nabi Sulaiman a.s. dan Yusuf a.s

Mari belajar dari Nabi Sulaiman a.s. Hanya dengan mengajak dan memperlihatkan istananya yang megah, Bilqis segera tertarik untuk mengikuti Nabi Sulaiman.

Dikatakan kepadanya:

“Masuklah ke dalam istana.” Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.”

(Surah an-Naml, ayat 44)

Atau belajar dari Nabi Yusuf a.s. Dengan hanya melihat raut mukanya seseorang langsung mengenal bahwa ia adalah orang yang baik.

Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang diantara keduanya:

“Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur. Dan yang lainnya berkata: Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung”. Berikanlah kepada kami ta’birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena’birkan mimpi).”

(Surah Yusuf, ayat 36)

Dakwah ini butuh sentuhan dan perasaan. Disampaikan dari hati agar sampai ke hati, mendudukan obyek dakwah sesuai dengan kedudukannya. Tentu berbeda cara berdakwah dengan anak anak dan orang dewasa atau bapak-bapak, juga cara berdakwah dengan orang yang berilmu dan tidak berilmu.

Bila kita bisa memahami hal ini  lalu kita praktekan, maka tidak mustahil majlis-majlis ilmu kita akan penuh. Dan keterikatan masyarakat terhadap agama terlihat kuat dan menyebar.