Menentang Firaun – tetap istikamah di jalan dakwah

Kehidupan Komiruddin 04-Nov-2020
dreamstime_s_39684217
Menentang Firaun - tetap istikamah di jalan dakwah © Garudeya | Dreamstime.com

Inilah metode lama para diktator dalam melanggengkan kekuasaan. Mereka belajar dari pendahulu mereka, Firaun laknatullah.

Yaitu berbuat sewenang-wenang, memecah belah persatuan umat. Mengadu domba antara golongan, membabat habis setiap yang berpotensi menghambat program dan tujuannya. Malah membiarkan kerusakan tersebar, bahkan memproduksi kerusakan itu sendiri.

Suarakan kebenaran, tidak berhenti apapun risikonya

“Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”

(Surah al-Qashash, ayat 4)

Tapi Allah SWT tidak akan membiarkan semua perbuatan itu berjalan mulus. Selalu  lahir Musa-Musa di setiap zaman. Yang akan membawa umat keluar dari penindasan setiap Firaun.

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).”

(Surah al-Qashash, ayat 5)

Tugas Musa-Musa itu menyuarakan kebenaran di telinga para Firaun dan istikamah, tidak pernah berhenti apapun risikonya. Walau sesungguhnya Musa-Musa itu tidak tahu bagaimana cara Allah SWT memenangkan dakwahnya.

Tetap istikamah di jalan dakwah

Tapi keyakinan akan datang kemenangan itu tak pernah surut apalagi hilang.  Keyakinan akan pastinya janji Allah SWT,  bahwa bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hambanya yang saleh.

 “Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.”

(Surah al-Anbiya’, ayat 105)

Sebab itu, tetaplah istikamah di jalan dakwah sepanjang hayat, walau kezaliman memenuhi bumi dan fajar kemenangan masih diselubungi kabut.

Allah punya cara sendiri dalam menumbangkan setiap kezaliman,  yang bisa jadi tak pernah masuk nalar manusia. Sebesar apun kezaliman bila masih ada yang menyeru dan menyuarakan kebenaran, kezaliman itu pasti akan hancur, dan kebenaran akan tampil sebagai pemenang.

“Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”

(Surah al-Isra’, ayat 81)

Kemenangan adalah akumulasi dari mata rantai perjuangan sebelumnya. Dia tidak akan pernah diberikan dengan instan dan cuma-cuma.  Dan bisa jadi kita tak pernah menyaksikannya.