Mengadulah semata pada Allah SWT

dreamstime_s_46179785
Mengadulah semata pada Allah SWT © Arne9001 | Dreamstime.com

“Hendaknya salah seorang dari kalian meminta kepada Rabbnya seluruh kebutuhannya bahkan sampai untuk memperbaiki tali sandalnya jika terputus.”

Demikian suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Tepatnya tertulis dalam Sunan at-Tirmidzi bagaimana Baginda berpesan buat kita, umatnya.

Berkeluh kesah adalah bajunya manusia. Karena hidup jalannya tak selalu dan selamanya sama. Keluh kesah seseorang lumrah terjadi. Yang aneh adalah jika aduan keluh kesahnya salah alamat pengiriman. Bukan ditujukan pada pemilik keluh kesah.

Kepada siapa kita seharusnya menyampaikan keluh kesah?

Kemajuan teknologi rupanya juga dibarengi dengan kecanggihan teknik seseorang dalam berkeluh kesah. Ada orang yang mengeluhkan soalan hidupnya kepada orang lain lewat fasilitas yang disediakan teknologi terkini seperti media sosial lewat status Facebook, Twitter atau Instagram. Tak cukup sebatas keluhan, bahkan isi munajat doa juga diviralkan via media sosial teranyar, bukan kepada penguasa alam dan segala isinya.

Gejala perubahan cara pandang dalam adab berkeluh kesah dan berdoa sepertinya dirasa perlu ditinjau ulang kembali. Teknologi bukan dalih menghilangkan adab dalam berdoa. Justru hasil kemajuan teknologi sangat membantu memudahkan kehidupan manusia.

Tinjau ulang kembali kepada siapa kita seharusnya menyampaikan keluh kesah dan doa, dan media apa yang dianjurkan karena telah teruji lagi tepercaya keampuhannya. Jawabannya tentu kepada Allah SWT semata.

Justru, umbaran aduan dan keluh kesah via dinding media sosial bukannya mendatangkan solusi efektif, malah memunculkan multitafsir oleh pembacanya. Maksud hati dapat solusi, malah menambah deretan masalah baru.

Dalam kisah Nabi Yusuf a.s, tatkala sepuluh saudara membuat laporan kali kedua kabar duka menimpa Bunyamin kepada ayahnya, Nabi Ya’qub a.s; penyesalan pun meruah dalam diri mereka. Sungguh, sumpah telah mereka langgar. Tak terulang kali kedua saudara mereka raib. Seperti ketika bermain-main dengan Yusuf, mereka juga gagal menjaga Bunyamin.

Dulu mereka membawa bermain Yusuf a.s, namun tak kunjung pulang hilang entah di mana walau dikata raib dimangsa serigala. Kali kedua, kesedihan terulang lagi. Yang ditakutkan Nabi Ya’qub a.s terjadi nyata. Mereka berusaha menghibur ayah mereka dengan berkata,“Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf, sehingga engkau (mengidap) penyakit berat atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa.”

Adukan kesusahan dan kesedihan kepada Allah SWT semata

Jawaban Nabi Ya’qub a.s terhadap mereka hanya mengadukan kesusahan dan kesedihannya kepada Allah SWT semata. Bukan kepada anak-anaknya, apalagi orang sekitar tempat tinggalnya. Aduannya bukan kepada makhluk, melainkan hanya kepada Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya.

Ia (Ya’qub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui.”

(Surah Yusuf, 12:86)

Imam Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitabnya al-Hikam mengatakan, “Jangan mengadu dan meminta sesuatu kebutuhan selain kepada Allah sebab Dia sendiri yang memberi dan menurunkan kebutuhan itu kepadamu. Maka, bagaimanakah sesuatu selain Allah akan dapat menyingkirkan sesuatu yang diletakkan oleh Allah? Barangsiapa yang tidak dapat menyingkirkan bencana yang menimpa dirinya sendiri, maka bagaimanakah ia akan dapat menyingkirkan bencana yang ada pada orang lain?”

Kadang kita hanya ingin bercerita biasa. Menuangkan semua keluh kesah yang ada. Melepas takut yang mengikat. Berharap pekat tak lagi lekat. Namun, cara dan sarana media kita menyalurkannya terkadang bukannya menyelesaikan sangkut masalah, malah membuat runyam dan kusut berbalut.

Adukan aduan kita kepada Allah SWT saja karena Allah takkan pernah mengecewakan setiap pengadu. Sebagaimana Nabi Ya’qub a.s mengajukan aduannya kepada Allah semata.