Mengalah tidaklah kalah?

Psikologi Sanak
Opini oleh Sanak
Mengalah tidaklah kalah?
Mengalah tidaklah kalah? © Sundaemorning | Dreamstime.com

Suatu ketika penulis menemani siswa dalam perlombaan cerdas cermat yang ditaja oleh himpunan kemahasiswaan. Dalam babak penyisihan, tim kami dipecundangi dengan kecurangan.

Ketidakadilan terlihat nyata, namun panitia bersikukuh merasa tidak bersalah. Protes yang kami ajukan dianggap isapan jempol belaka. Akhirnya, kami menelan pil pahit, kalah.

Mengalah untuk mengupgrade diri

Seorang guru dan pelatih olah raga pernah mengatakan kepada saya bahwa, “Kecurangan pada sebuah pertandingan biasanya efektif ketika materi atau kekuatan pemain hampir seimbang. Sedangkan jika terpaut jauh, maka kecurangan dalam bentuk apapun, tidak akan berguna sama sekali.”

Maksudnya selama kita dengan tim lawan memiliki kemampuan seimbang, maka bayang-bayang kecurangan akan menghantui. Keadaan akan berubah ketika kita sudah jauh lebih unggul.

Bagaimana pun ketidak-adilannya, tak akan berarti. Dalam kehidupannya nyata, tim sepak bola kampung akan sulit menang menghadapi klub liga utama Eropa sekalipun wasit dan hakim garis berpihak pada mereka. Makanya sangat penting bagi kita untuk mengupgrade diri.

Mengalah untuk menang

Mengalah adalah pilihan terbaik untuk menghentikan pertikaian. Perseteruan yang terjadi di antara dua belah pihak akan bisa diredam sehingga terjadi perdamaian. Ketika dua kubu sudah berdamai, maka tidak ada yang kalah, semuanya menang.

Lihatlah bagaimana Hasan bin Ali bin Abi Thalib r.a, cucu Rasulullah SAW tercinta. Ketika Ali bin Abi thalib r.a meninggal dunia, penduduk Madinah bersepakat membaiatnya.

Keputusan ini ditentang oleh Muawiyyah bin Abu Sofyan r.a yang sudah lama tidak satu suara dengan Ali r.a. Gubernur Damaskus ini ingin menyatukan kepemimpinan kaum muslimin agar tidak ada lagi perpecahan.

Hasan bin Ali r.a mengalah dan memberikan tampuk kekuasaannya pada Muawwiyah bin Abi Sofyan. Keputusan beliau ini mengakhiri perpecahan bekepanjangan yang telah terjadi semenjak terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan r.a. Tahun itu dikenal dengan tahun jama’ah, kaum muslimin bersatu.

Maka sikap Hasan r.a ini sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah SAW sebelumnya:

“Sesungguhnya anakku ini (Hasan bin Ali) adalah pemimpin dan semoga Allah mendamaikan  dua kelompok besar kaum muslimin berkat tangannya.”

(Hadis riwayat Bukhari)

Dengan mengalah, energi dari sumber manapun bisa dikumpulkan sehingga muncul kekuatan dahsyat yang tidak akan bisa dikalahkan oleh siapapun. Inilah yang dilakukan tim penulis. Setahun setelah dipecundangi, giliran kami meraih prestasi tertinggi tanpa bisa dihalangi. Tabik.