Mengapa kita harus kaya?

Dunia Kkartika Sustry 16-Jun-2020
Allah al-Ghani © Sudok1 | Dreamstime.com

Mengapa kita harus kaya? Tentunya banyak sekali alasan sebagai umat Muslim bahwa kita harus menjadi kaya, hal yang paling penting kita menjadi kaya dengan tujuan ridho Allah SWT dan ibadah agar bisa berbagi terhadap sesama, mari simak ulasan berikut.

Allah SWT Maha Kaya

Allah Maha Kaya (al-Ghani) Pemilik langit dan bumi beserta seluruh isinya. Jadi jika  ingin kaya, mintalah kepada Allah SWT. Sesungguhnya tidak ada manusia yang kaya. Semua harta yang ada sekedar titipan Allah selama mereka masih hidup. Manusia ibarat tukang parkir. Semua kendaraan itu punya sang empunya. Al-Ghani salah satu nama Allah yang sangat indah. Keindahannya terletak pada nama dan makna-Nya. Sebagai dalil bahwa al-Ghani merupakan nama Allah, firman Allah SWT: “Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan(Nya).” (Surah Muhammad 47, ayat 38)

Rasulullah SAW adalah pribadi yang kaya

Rasulullah SAW, teladan hidup bagi umat Islam. Nabi Muhammad SAW terkenal sebagai orang pekerja cerdas yang jujur dan amanah. Baginda memulai kariernya dengan menjalankan perdagangan kecil-kecilan di kota Mekkah, membeli barang-barang dari satu pasar kemudian menjualnya ke pasar lainnya. Menurut riwayat, Baginda memberikan sejumlah emas dan 20 ekor unta terbaik, yang artinya sama dengan 20 mobil termewah saat ini. Sebelum mencapai usia 25 tahun, Baginda adalah seorang yang kaya dengan skill dan ekpertis yang jelas seorang wirausaha ulung.

Para sahabat juga kaya

Berikut fakta bahwa sahabat Rasulullah SAW kaya, di antara para sahabat yang kaya juga adalah para pebisnis dan dermawan ulung:

  • Abu Bakar as-Shidiq r.a. – Pengabdian Abu Bakar untuk Islam sangatlah besar. Ia menyerahkan semua harta bendanya demi kepentingan Islam. Aisyah r.a. berkata, “Abu Bakar menginfakkan 4.000 dirham kepada Nabi.”
  • Umar Bin Khattab r.a. – Mewariskan 70.000 properti (ladang pertanian) seharga @160 juta (total Rp 11.2 Triliun), dan arus kas (cash flow) per bulan dari properti sama dengan 2,8 Triliu per tahun atau 233 Miliar per bulan
  • Ustman Bin Affan r.a. – Nilai kekayaan saat wafat Rp.2.532.942.750.000 (Ibn Katsir, al-Bidayah wa an Nihayah)
  • Abdurrahman ibn ‘Awf r.a. – Nilai kekayaan saat wafat Rp. 6.212.688.000.000. Beliau terkenal sebagai pebisnis ulung
  • Thalhah ibn ‘Ubaydillah r.a.: Nilai kekayaan saat wafat Rp.542.100.500.000
  • Sa’d ibn Abi Waqqash r.a.: Nilai kekayaan saat wafat Rp.15.380.750.000

Nikmat jadi orang kaya

Dengan harta, seharusnya ia dapat memanfaatkan titipan Allah SWT itu dengan sebaik-baiknya. Dan di antara nikmat kaya tersebut dijabarkan sebagai berikut:

  • Melancarkan kita dalam sarana ibadah dan dakwah
  • Dapat membantu orang lain
  • Memudahkan semua urusan dan kegiatan
  • Alat masuk Surga

Jalan menuju kaya

Hal yang utama jalan menuju kaya haruslah berlandaskan agama agar menjadi nilai tambah dalam kehidupan seseorang. Berikut anjuran dalam Islam agar menjadi kaya:

  • Mendekatkan Diri Kepada Allah Yang Maha Kaya
  • Bersahabat Dengan Orang Kaya
  • Bersedekah
  • Dhuhah
  • Menjaga Salat Malam (Tahajud)
  • Membaca Waqiah Di Malam Hari.

Begitu banyak jalan menuju roma. Artinya, banyak yang bisa kita lakukan untuk menjadi Muslim yang kaya. Kaya dengan niat dan tujuan agar bisa beribadah kepada Allah SWT dan membantu orang lain.